Kekalahan telak yang dialami Chelsea dari Brighton & Hove Albion dalam lanjutan Liga Inggris musim 2025-2026 memicu reaksi keras dari sang pelatih, Liam Rosenior. Dalam pertandingan pekan ke-34 yang berlangsung di American Express Stadium, The Blues harus menelan kekalahan menyakitkan dengan skor 0-3 pada Rabu (22/4/2026) dini hari WIB.
Hasil ini memperpanjang tren buruk Chelsea yang kini telah menderita lima kekalahan beruntun di kompetisi domestik. Sebuah catatan yang tentu saja jauh dari ekspektasi klub sebesar Chelsea. Tidak hanya kalah, performa tim juga dinilai sangat mengecewakan, baik dari segi taktik, mentalitas, hingga determinasi di lapangan.
Sejak menit awal, Brighton tampil agresif dan langsung memberikan tekanan. Gol cepat yang dicetak oleh Ferdi Kadioglu pada menit ke-3 menjadi pukulan telak bagi Chelsea. Situasi semakin memburuk ketika Jack Hinshelwood menggandakan keunggulan pada menit ke-56. Di penghujung laga, Danny Welbeck menutup pesta kemenangan Brighton lewat gol di masa injury time.
Penampilan lini belakang Chelsea, termasuk penjaga gawang Robert Sanchez, menjadi sorotan tajam. Gawang mereka dengan mudah ditembus tanpa perlawanan berarti. Hal ini mencerminkan lemahnya koordinasi serta minimnya semangat juang dari para pemain di lapangan.
Usai pertandingan, Rosenior tidak menahan kekecewaannya. Ia secara terbuka mengkritik performa anak asuhnya yang dinilai jauh dari standar klub elite. Menurutnya, hampir seluruh aspek permainan menunjukkan kelemahan yang tidak bisa ditoleransi.
Rosenior bahkan mengakui bahwa ia selama ini kerap membela para pemainnya di tengah hasil yang kurang memuaskan. Namun, untuk pertandingan kali ini, ia merasa tidak ada lagi alasan yang bisa diberikan. Ia menyebut performa tim sebagai sesuatu yang “tidak dapat dibenarkan” dan menegaskan perlunya perubahan drastis dalam waktu dekat.
Lebih jauh, pelatih asal Inggris tersebut juga menyoroti kurangnya semangat bertanding dari para pemain. Ia menyebut hanya tiga hingga empat pemain yang menunjukkan determinasi tinggi sepanjang pertandingan. Sisanya dinilai tampil tanpa energi dan seolah tidak memiliki keinginan untuk bersaing.
Situasi ini membuat Rosenior mulai mempertanyakan profesionalisme skuadnya. Ia menilai sikap yang ditunjukkan di lapangan tidak mencerminkan standar pemain yang membela klub sebesar Chelsea. Bahkan, ia menyebut pertandingan ini sebagai salah satu momen paling sulit dalam karier kepelatihannya.
Kekecewaan Rosenior semakin terasa karena ia sebelumnya melihat adanya tanda-tanda perbaikan, terutama setelah laga melawan Manchester United. Meski hasil belum maksimal, ia merasa tim mulai menunjukkan arah positif. Namun, performa melawan Brighton justru menjadi kemunduran besar.
Ia juga menyinggung soal mentalitas pemain yang dianggap mulai menurun. Rosenior mengindikasikan adanya sikap menyerah yang tidak bisa diterima dalam dunia sepak bola profesional. Baginya, bahkan kesan “menyerah” saja sudah cukup untuk dianggap sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai klub.
Meski berada dalam tekanan besar, Rosenior tetap menegaskan bahwa timnya harus segera bangkit. Ia mengalihkan fokus ke laga penting berikutnya, yakni semifinal Piala FA melawan Leeds United. Pertandingan tersebut menjadi kesempatan bagi Chelsea untuk menebus kegagalan dan mengembalikan kepercayaan diri tim.
Rosenior mengakui bahwa kekalahan ini meninggalkan rasa sakit yang mendalam. Ia bahkan menggambarkan dirinya merasa “mati rasa” melihat performa tim. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh berlarut-larut dan harus segera diatasi.
Ke depan, Chelsea menghadapi tantangan besar untuk memperbaiki performa mereka. Selain aspek teknis, pembenahan mental dan sikap pemain menjadi pekerjaan rumah utama bagi Rosenior. Tanpa perubahan signifikan, bukan tidak mungkin posisi mereka di klasemen akan terus merosot.
Kekalahan dari Brighton menjadi peringatan keras bahwa nama besar klub tidak menjamin hasil di lapangan. Dibutuhkan kerja keras, disiplin, dan komitmen penuh dari seluruh elemen tim untuk kembali ke jalur kemenangan. Bagi Rosenior, momen ini bisa menjadi titik balik—atau justru awal dari krisis yang lebih dalam jika tidak segera diatasi.
