Pep Guardiola Resmi Tinggalkan Manchester City Musim Ini

Era panjang Pep Guardiola bersama Manchester City akhirnya resmi berakhir. Pelatih asal Spanyol itu memastikan akan meninggalkan Etihad Stadium setelah musim 2025/2026 selesai. Keputusan tersebut menutup perjalanan luar biasa Guardiola yang telah berlangsung selama satu dekade bersama klub berjuluk The Citizens itu.

Pengumuman perpisahan Guardiola disampaikan pada Jumat, 22 Mei 2026. Kabar tersebut cukup mengejutkan karena kontraknya bersama Manchester City sebenarnya masih berlaku hingga Juni 2027. Namun Guardiola memilih mengakhiri kerja samanya lebih cepat setelah merasa waktunya di klub telah selesai.

Keputusan Guardiola meninggalkan Manchester City langsung menjadi perhatian besar dunia sepak bola. Selama 10 tahun terakhir, sosoknya identik dengan kebangkitan dan dominasi Manchester City di kompetisi domestik maupun Eropa.

Guardiola pertama kali bergabung dengan Manchester City pada musim panas 2016 setelah meninggalkan Bayern Muenchen. Saat itu, manajemen klub menunjuknya sebagai sosok yang diharapkan mampu membawa City naik ke level tertinggi sepak bola dunia.

Harapan tersebut terbukti menjadi kenyataan. Dalam kurun waktu 10 tahun, Guardiola sukses mengubah Manchester City menjadi salah satu klub paling dominan di Eropa. Ia mempersembahkan total 20 trofi untuk klub, termasuk enam gelar Liga Inggris dan trofi Liga Champions yang selama bertahun-tahun menjadi impian besar City.

Soccer Football - FA Cup - Semi Final - Manchester City v Southampton - Wembley Stadium, London, Britain - April 25, 2026 Manchester City manager Pep Guardiola celebrates after the match REUTERS/Dylan Martinez

Tidak hanya soal gelar, Guardiola juga berhasil membangun identitas permainan khas Manchester City. Gaya bermain menyerang dengan penguasaan bola tinggi menjadi ciri utama timnya. Di bawah kepemimpinannya, City dikenal sebagai tim yang disiplin, agresif, dan sangat sulit dikalahkan.

Banyak pemain berkembang pesat bersama Guardiola. Sejumlah bintang seperti Kevin De Bruyne, Phil Foden, Erling Haaland, hingga Rodri mencapai level permainan terbaik mereka di bawah arahan pelatih berusia 55 tahun tersebut.

Meski sukses besar, Guardiola mengaku keputusannya untuk pergi bukan karena konflik atau masalah tertentu. Ia menyebut tidak ada alasan khusus selain merasa sudah waktunya mengakhiri perjalanan panjangnya bersama Manchester City.

Dalam pernyataannya, Guardiola menegaskan bahwa kenangan dan rasa cintanya terhadap klub akan tetap abadi. Ia menggambarkan perjalanan bersama Manchester City sebagai salah satu pengalaman terbaik dalam hidupnya.

Guardiola mengatakan tidak ada yang berlangsung selamanya dalam sepak bola. Menurutnya, setiap perjalanan pasti memiliki akhir, termasuk kebersamaannya dengan Manchester City yang telah berlangsung selama satu dekade.

Walaupun meninggalkan posisi pelatih, Guardiola ternyata tidak sepenuhnya berpisah dari Manchester City. Setelah mundur dari kursi manajer, ia akan menjalani peran baru sebagai Global Ambassador untuk City Football Group, perusahaan yang menaungi Manchester City dan sejumlah klub lain di berbagai negara.

Peran tersebut membuat hubungan Guardiola dengan Manchester City tetap terjaga meski dirinya tidak lagi berada di pinggir lapangan. City Football Group tampaknya ingin memastikan sosok Guardiola tetap menjadi bagian penting dalam sejarah dan identitas klub.

Selain mengumumkan perpisahan, Guardiola juga mengungkap rencana pribadinya setelah meninggalkan Manchester City. Ia mengaku ingin beristirahat dari dunia sepak bola untuk sementara waktu.

Menurut Guardiola, dirinya membutuhkan jeda setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan kompetisi level tertinggi. Ia merasa perlu mengambil waktu untuk bernapas dan menikmati kehidupan tanpa rutinitas pertandingan yang padat.

Guardiola menegaskan bahwa dirinya belum memiliki rencana melatih klub lain dalam waktu dekat. Banyak orang memprediksi ia akan segera kembali menangani tim besar Eropa setelah meninggalkan City, tetapi Guardiola membantah anggapan tersebut.

Pelatih Man City, Pep Guardiola, bereaksi saat di lapangan laga final Piala FA antara Man City vs Man United di Stadion Wembley pada 25 Mei 2024.

Ia mengatakan bahwa keputusan untuk beristirahat bukan sekadar ucapan spontan. Guardiola merasa kondisi mental dan energinya memang membutuhkan pemulihan setelah hampir dua dekade hidup dalam tekanan sepak bola elit.

Sebelum melatih Manchester City, Guardiola lebih dulu menangani Barcelona dan Bayern Muenchen. Ia melatih Barcelona pada periode 2008 hingga 2012 dan membawa klub Catalan itu meraih berbagai gelar bergengsi, termasuk dua trofi Liga Champions.

Setelah itu, Guardiola melanjutkan karier di Bayern Muenchen dari 2013 hingga 2016. Bersama klub Jerman tersebut, ia juga sukses mendominasi kompetisi domestik.

Jika dihitung secara keseluruhan, Guardiola telah menghabiskan sekitar 17 hingga 18 tahun sebagai pelatih di level tertinggi tanpa banyak jeda. Jadwal pertandingan yang padat, tuntutan meraih gelar, serta tekanan besar dari publik membuat dirinya merasa perlu mengambil waktu istirahat.

Guardiola mengaku sangat puas dengan pencapaiannya selama di Manchester City. Ia merasa mendapatkan cinta dan dukungan luar biasa dari klub maupun para suporter selama bertahun-tahun.

Bagi Guardiola, Manchester City bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga bagian penting dalam hidupnya. Karena itu, keputusan untuk pergi bukanlah hal yang mudah baginya.

Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya, Manchester City telah menyiapkan sejumlah tribute khusus untuk Guardiola. Salah satu tribun Stadion Etihad akan menggunakan nama Pep Guardiola.

Tribun utara stadion dijadwalkan mulai dibuka pada pertandingan terakhir musim ini saat Manchester City menghadapi Aston Villa. Penamaan tribun tersebut menjadi simbol penghargaan klub terhadap jasa besar Guardiola.

Selain itu, Manchester City juga berencana membangun patung Guardiola di sekitar area stadion. Patung tersebut akan menjadi pengingat atas era keemasan klub di bawah kepemimpinannya.

Guardiola mengaku sangat tersentuh dengan penghormatan tersebut. Ia bahkan mengatakan sulit menemukan kata-kata untuk menggambarkan perasaannya.

Momen tersebut terasa semakin emosional karena ayah Guardiola yang kini berusia 94 tahun dijadwalkan hadir menyaksikan pertandingan terakhirnya bersama Manchester City di Stadion Etihad.

Menurut Guardiola, melihat nama keluarganya diabadikan di stadion Manchester City merupakan kehormatan besar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kepergian Guardiola tentu meninggalkan tantangan besar bagi Manchester City. Klub kini harus mencari sosok pengganti yang mampu mempertahankan standar tinggi yang telah dibangun selama satu dekade terakhir.

Tidak mudah menggantikan pelatih dengan pencapaian sebesar Guardiola. Selain trofi, ia telah membentuk budaya kemenangan dan filosofi permainan yang menjadi identitas Manchester City modern.

Banyak pihak menilai era Guardiola sebagai periode paling sukses dalam sejarah Manchester City. Di bawah arahannya, City tidak hanya mendominasi Inggris, tetapi juga menjadi kekuatan utama di Eropa.

Meski akan pergi, warisan Guardiola dipastikan tetap hidup di Manchester City. Filosofi permainan, mental juara, serta standar profesionalisme yang ia bangun akan terus menjadi fondasi klub di masa depan.

Bagi para pendukung Manchester City, perpisahan ini tentu menjadi momen emosional. Guardiola bukan hanya pelatih sukses, tetapi juga simbol transformasi klub menuju level tertinggi sepak bola dunia.

Kini, setelah 10 tahun penuh trofi dan sejarah, perjalanan Guardiola bersama Manchester City resmi mendekati akhir. Namun kisah dan pengaruhnya di Etihad Stadium dipastikan akan terus dikenang dalam waktu yang sangat lama.