Maskapai berbiaya rendah AirAsia melakukan pengurangan signifikan terhadap operasional penerbangannya dari Singapura dalam setahun terakhir. Penyesuaian tersebut terlihat dari berkurangnya frekuensi penerbangan menuju sejumlah kota di Indonesia, termasuk Jakarta dan Bali, seiring strategi perusahaan untuk mengoptimalkan jaringan penerbangannya di kawasan Asia Tenggara.
Data dari OAG Aviation menunjukkan bahwa jumlah penerbangan AirAsia antara Bandara Changi, Singapura, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, mengalami penurunan tajam. Pada Juni 2025 maskapai tersebut masih mengoperasikan sekitar 104 penerbangan dalam sebulan di rute tersebut. Namun, pada Juni 2026 jumlahnya menyusut menjadi hanya sekitar 30 penerbangan.
Tidak hanya frekuensi penerbangan yang berkurang, kapasitas kursi yang disediakan juga mengalami penyesuaian besar. Jika pada pertengahan 2025 AirAsia menawarkan sekitar 36.000 kursi per bulan di jalur Singapura–Jakarta, kini kapasitas tersebut tinggal sekitar 5.400 kursi.
Penurunan kapasitas tersebut mencerminkan perubahan strategi operasional perusahaan dalam menghadapi dinamika industri penerbangan yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari permintaan pasar hingga kondisi geopolitik global.
Langkah pengurangan penerbangan semakin terlihat setelah Indonesia AirAsia menghentikan layanan langsung antara Singapura dan Bali pada April 2026. Penutupan rute tersebut menjadi salah satu indikator bahwa perusahaan tengah melakukan penataan ulang jaringan penerbangan internasionalnya.
Pengamat industri penerbangan dari OAG Aviation, Mayur Patel, menilai kebijakan tersebut bukan sekadar penyesuaian musiman, melainkan bagian dari perubahan strategi yang lebih besar.

Menurutnya, AirAsia kini lebih memilih mengarahkan penumpang melalui pusat operasionalnya di Kuala Lumpur dibanding mempertahankan sejumlah rute langsung dari Singapura. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memaksimalkan tingkat keterisian kursi pada penerbangan yang sudah tersedia.
Dengan model tersebut, penumpang dari Singapura menuju Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia dapat terlebih dahulu transit di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.
Strategi ini dinilai lebih menguntungkan bagi maskapai karena mampu memanfaatkan jaringan penerbangan yang sudah berjalan tanpa harus membuka atau mempertahankan rute tambahan yang membutuhkan biaya operasional lebih besar.
Saat ini AirAsia diketahui melayani sekitar 11 penerbangan setiap hari dari Singapura menuju Kuala Lumpur. Dari ibu kota Malaysia tersebut, maskapai juga mengoperasikan enam hingga tujuh penerbangan harian menuju Jakarta.
Jaringan tersebut memberikan fleksibilitas bagi AirAsia dalam mengonsolidasikan penumpang dari berbagai negara sebelum diterbangkan ke tujuan akhir melalui hub utama di Kuala Lumpur.
Selain faktor efisiensi jaringan, kondisi global juga diyakini turut memengaruhi keputusan perusahaan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada pasokan energi menjadi salah satu tantangan utama bagi industri penerbangan internasional.
Krisis pasokan bahan bakar yang dipicu konflik di kawasan tersebut, ditambah gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, menyebabkan biaya operasional maskapai meningkat. Situasi tersebut mendorong banyak perusahaan penerbangan untuk melakukan evaluasi terhadap rute-rute yang dinilai kurang menguntungkan.
Mayur Patel menilai kondisi tersebut kemungkinan mempercepat keputusan AirAsia untuk menangguhkan atau mengurangi sejumlah layanan langsung dari Singapura.
Tekanan terhadap industri penerbangan sebenarnya tidak hanya dirasakan AirAsia. Analisis perusahaan data penerbangan Cirium terhadap perubahan jadwal penerbangan global pada Mei 2026 menunjukkan bahwa maskapai-maskapai di Asia menjadi kelompok yang paling banyak melakukan pengurangan kapasitas.
Dari 20 maskapai dengan penurunan jadwal terbesar, sebanyak 11 di antaranya berasal dari kawasan Asia. Tiga maskapai yang berada di bawah naungan AirAsia Group juga masuk dalam daftar tersebut dengan tingkat pengurangan kapasitas berkisar antara 10 hingga 15 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa langkah efisiensi yang dilakukan AirAsia merupakan bagian dari tren yang lebih luas di industri penerbangan regional.
Maskapai di berbagai negara kini dihadapkan pada tantangan berupa kenaikan biaya operasional, fluktuasi harga energi, ketidakpastian ekonomi global, hingga perubahan pola permintaan perjalanan internasional.
Dalam kondisi seperti ini, banyak operator memilih memusatkan operasional di bandara hub utama untuk meningkatkan efisiensi armada dan menjaga profitabilitas.
Bagi AirAsia, Kuala Lumpur tetap menjadi pusat konektivitas utama yang menghubungkan berbagai destinasi di Asia Tenggara. Dengan mengonsolidasikan lalu lintas penumpang melalui Malaysia, maskapai dapat mengoptimalkan penggunaan armada sekaligus mengurangi biaya operasional pada rute yang memiliki permintaan lebih rendah.
Meski demikian, pengurangan penerbangan langsung dari Singapura menuju Indonesia berpotensi memberikan dampak bagi sebagian penumpang yang selama ini mengandalkan layanan nonstop. Waktu perjalanan menjadi lebih panjang karena harus melakukan transit sebelum mencapai tujuan.
Di sisi lain, strategi ini juga menunjukkan bagaimana maskapai penerbangan semakin mengutamakan efisiensi operasional di tengah tantangan industri yang masih berlangsung.
Ke depan, kebijakan AirAsia diperkirakan akan terus bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi global, stabilitas harga bahan bakar, serta pemulihan permintaan perjalanan internasional. Apabila situasi pasar kembali membaik, bukan tidak mungkin sejumlah rute langsung yang saat ini dikurangi akan kembali dibuka.
Untuk saat ini, fokus perusahaan tampaknya masih tertuju pada penguatan jaringan penerbangan melalui Kuala Lumpur sebagai hub utama, sekaligus memastikan operasional tetap berjalan secara efisien di tengah ketidakpastian industri penerbangan global.
