Presiden LaLiga Desak Infantino Mundur, Tolak Piala Dunia 64 TimPresiden LaLiga Desak Infantino Mundur, Tolak Piala Dunia 64 Tim

Presiden LaLiga, Javier Tebas, kembali melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino. Dalam pernyataannya kepada media Italia, Tebas menilai kebijakan FIFA yang terus mendorong ekspansi turnamen internasional telah merusak ekosistem sepak bola dunia. Ia bahkan secara terbuka meminta Infantino mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden FIFA.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan dunia sepak bola karena muncul setelah kembali mencuatnya wacana memperluas Piala Dunia 2030 menjadi 64 peserta. Menurut Tebas, gagasan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dari sisi olahraga maupun bisnis jangka panjang. Ia menilai penambahan jumlah peserta hanya akan memperparah kepadatan kalender pertandingan dan mengorbankan kompetisi domestik yang selama ini menjadi fondasi industri sepak bola. 

Presiden LaLiga, Javier Tebas

Tebas menegaskan bahwa Piala Dunia memang merupakan ajang sepak bola paling bergengsi di dunia. Namun, ia menilai FIFA tidak boleh menjadikan turnamen tersebut sebagai pusat dari seluruh aktivitas sepak bola global. Menurutnya, kompetisi liga domestik di berbagai negara justru menjadi sumber utama pendapatan klub, pengembangan pemain muda, hingga penciptaan ribuan lapangan kerja di industri olahraga.

Dalam pernyataannya, Tebas menyebut bahwa “tidak semua hal harus berputar pada Piala Dunia.” Ia menilai kebijakan FIFA dalam beberapa tahun terakhir semakin berorientasi pada kepentingan komersial melalui penambahan jumlah pertandingan dan perluasan turnamen internasional. Akibatnya, klub-klub profesional harus menghadapi jadwal yang semakin padat sehingga berpotensi meningkatkan risiko cedera pemain dan menurunkan kualitas pertandingan.

Rencana memperluas Piala Dunia menjadi 64 peserta sebenarnya masih sebatas usulan yang memicu perdebatan di kalangan pemangku kepentingan sepak bola. Sebelumnya FIFA telah memperbesar jumlah peserta Piala Dunia 2026 dari 32 menjadi 48 negara. Kini, muncul dorongan agar edisi 2030 kembali diperluas menjadi 64 tim sebagai bagian dari peringatan 100 tahun penyelenggaraan Piala Dunia.

Foto: Timnas Iran Beri Penghormatan untuk Anak-anak Korban Perang di Laga Uji Coba Internasional

Namun, usulan tersebut mendapat penolakan dari banyak pihak. Tebas menjadi salah satu tokoh paling vokal yang menentangnya. Ia berpendapat bahwa semakin banyak peserta justru akan mengurangi kualitas kompetisi karena selisih kekuatan antarnegara menjadi semakin besar. Selain itu, penambahan pertandingan juga akan memperpanjang durasi turnamen sehingga berdampak langsung terhadap kalender kompetisi domestik di berbagai negara.

Tak hanya menolak ekspansi Piala Dunia, Tebas juga mengkritik sejumlah kebijakan FIFA lainnya selama penyelenggaraan turnamen terbaru. Ia menyinggung perubahan durasi jeda babak pertama pada laga final yang diperpanjang untuk kebutuhan hiburan dan komersial, serta penerapan jeda hidrasi yang dinilai berlebihan. Menurutnya, keputusan-keputusan tersebut menunjukkan bahwa kepentingan bisnis semakin mendominasi penyelenggaraan sepak bola internasional. 

Dalam kritiknya, Tebas bahkan menyebut FIFA telah “menghancurkan industri sepak bola”. Pernyataan tersebut mengacu pada kekhawatirannya bahwa semakin banyak kompetisi internasional akan menggerus nilai liga domestik. Ia menilai klub-klub profesional merupakan pihak yang paling dirugikan karena harus melepas pemain lebih lama untuk membela tim nasional, sementara beban gaji dan risiko cedera tetap ditanggung klub.

Tebas juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tata kelola FIFA di bawah kepemimpinan Infantino. Ia menilai sejumlah keputusan organisasi tidak lagi sepenuhnya berlandaskan prinsip independensi olahraga. Pernyataan tersebut ikut dipengaruhi oleh kontroversi mengenai keputusan disipliner selama Piala Dunia yang memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola internasional.

Seruan Tebas agar Gianni Infantino mundur kemudian mendapat perhatian luas. Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter bahkan turut menyuarakan kritik terhadap arah kepemimpinan FIFA saat ini. Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, keduanya sama-sama menilai sepak bola membutuhkan tata kelola yang lebih berfokus pada keberlanjutan olahraga daripada semata-mata mengejar pertumbuhan komersial. 

Donald Trump, Gianni Infantino

Di sisi lain, FIFA selama ini berpendapat bahwa perluasan turnamen memberikan kesempatan lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk tampil di panggung dunia. Organisasi tersebut juga menilai format baru mampu meningkatkan pemerataan sepak bola sekaligus memperluas pasar global. Dari sisi ekonomi, penyelenggaraan Piala Dunia dengan lebih banyak peserta diproyeksikan menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar melalui hak siar, sponsor, dan penjualan tiket.

Meski demikian, kritik terhadap ekspansi turnamen terus bermunculan dari berbagai kalangan. Sejumlah pelatih, pemain, hingga pengelola liga mengkhawatirkan meningkatnya beban fisik pemain akibat jadwal yang semakin padat. Dalam beberapa musim terakhir, isu kelelahan pemain memang menjadi perhatian serius, terutama bagi klub-klub yang berlaga di banyak kompetisi sekaligus.

Perdebatan mengenai masa depan Piala Dunia diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Jika FIFA benar-benar memutuskan memperluas jumlah peserta menjadi 64 tim, maka perubahan tersebut akan menjadi salah satu transformasi terbesar dalam sejarah sepak bola modern.

Bagi Javier Tebas, mempertahankan keseimbangan antara kompetisi internasional dan liga domestik merupakan hal yang tidak bisa ditawar. Ia menilai keberhasilan sepak bola dunia selama puluhan tahun dibangun dari kekuatan kompetisi lokal yang berlangsung sepanjang musim, bukan hanya dari turnamen yang digelar beberapa pekan sekali dalam empat tahun.

Kini, sorotan publik tertuju pada respons FIFA terhadap kritik tersebut. Hingga saat ini, Gianni Infantino belum memberikan tanggapan langsung mengenai desakan agar dirinya mundur. Namun, polemik ini dipastikan akan terus menjadi bahan perdebatan menjelang pembahasan resmi mengenai format Piala Dunia 2030. Apa pun keputusan yang diambil nantinya, arah perkembangan sepak bola global akan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara kepentingan komersial, kualitas kompetisi, dan keberlanjutan industri olahraga secara keseluruhan.