Perjuangan Jemaah Haji Melawan Suhu Nyaris 50 Derajat.

MEKKAH — Fase krusial dari rukun Islam kelima resmi bergulir mulai hari ini, Senin (25/5/2026). Di balik kekhusyukan jutaan umat Muslim yang mengalir memadati kota suci Mekkah, tersimpan sebuah tantangan fisik yang sangat berat. Tahun ini, para jemaah haji dari berbagai belahan dunia harus mengerahkan daya tahan tubuh ekstra demi menghadapi sengatan gelombang panas ekstrem khas iklim gurun yang melanda Arab Saudi.

Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi mengeluarkan peringatan berkala terkait kondisi cuaca ekstrem ini. Berdasarkan proyeksi meteorologi sepanjang pekan ini, suhu udara pada siang hari di wilayah Mekkah dan sekitarnya diprediksi akan meroket tajam, bergerak fluktuatif di angka 42 hingga 47 derajat Celcius. Kondisi ini menjadi ujian tersendiri mengingat mayoritas rangkaian prosesi ibadah haji menuntut fisik para jemaah untuk beraktivitas secara langsung di ruang terbuka.

Realitas Nyata di Lapangan: Mengubah Strategi Ibadah Demi Keselamatan

Sengatan matahari yang begitu menyengat memaksa banyak jemaah untuk bersikap realistis demi menjaga kondisi kesehatan mereka agar tidak tumbang sebelum puncak haji. Salah satunya adalah Inas Gamal, jemaah haji asal Mesir yang terpaksa memangkas target ibadahnya demi faktor keselamatan.

Ibu empat anak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci ini awalnya memiliki ambisi besar untuk menghabiskan seluruh waktu salat lima waktu di dalam area Masjidil Haram. Namun, realitas cuaca di lapangan berkata lain.

“Sangat panas, jauh lebih panas dari yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Tubuh saya tidak bisa langsung beradaptasi dengan lingkungan sedahsyat ini. Saya terpaksa membatalkan rencana untuk turun melaksanakan shalat berjamaah di Masjidil Haram pada waktu siang hari karena risikonya terlalu besar,” ungkap Inas saat diwawancarai oleh AFP, Senin (25/5/2026).

Langkah preventif serupa juga diambil oleh Imad Ahmed, jemaah haji yang datang dari Inggris. Terbiasa dengan iklim Eropa yang sejuk, Imad mengaku harus disiplin mengonsumsi cairan agar terhindar dari dehidrasi akut.

“Kunci utamanya adalah pergerakan konstan yang diimbangi asupan nutrisi. Saya selalu memastikan untuk meminum air mineral dalam jumlah banyak, serta mengonsumsi minuman yang kaya akan kandungan garam dan mineral penting. Kami terus berkeringat deras karena mobilitas di sini sangat tinggi,” tutur Imad.

Mitigasi Pemerintah Arab Saudi: Benteng Pendingin Tercanggih di Dunia

Menyikapi ancaman serangan panas (heatstroke) yang mengintai keselamatan para tamu Allah, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tidak tinggal diam. Otoritas setempat mengoperasikan infrastruktur mutakhir dengan mengaktifkan sistem pendingin udara (air conditioning) paling canggih di dunia untuk mengontrol suhu di sekitar halaman luar dan dalam Masjidil Haram.

Untuk area makro yang tidak terjangkau AC sentral, pihak berwenang memasang ratusan kipas angin raksasa yang terintegrasi dengan alat penyemprot kabut air (mist sprayer), serta menyalakan sistem pendingin khusus di bawah lantai marmer demi mengurangi hantaran panas ke telapak kaki jemaah.

Selain infrastruktur statis, tim logistik di lapangan bergerak dinamis menggunakan truk-truk besar untuk mendistribusikan jutaan botol air mineral dingin secara gratis kepada para jemaah yang melintas.

Upaya membasuh diri ini juga diakui oleh Mohamed Nabil (43), seorang profesor asal Aljazair. Ia menceritakan bagaimana dirinya harus berjalan kaki hingga 30.000 langkah sehari di tengah cuaca membara sembari membawa botol air untuk membasahi wajahnya secara berkala agar kulitnya tetap lembab dan terjaga dari sengatan matahari.

Berburu Es Krim dan Antisipasi Medis Jelang Puncak Wukuf di Arafah

Pemandangan unik juga terlihat di sekitar area komersial masjid, di mana kedai-kedai yang menjual es krim dan minuman dingin terus diserbu oleh antrean panjang jemaah yang mencari kesegaran instan. Sebagian jemaah lainnya memilih memetakan area teduh di bawah bayangan gedung-gedung bertingkat atau merebahkan diri di atas karpet galeri dalam ruangan yang dilengkapi kipas angin besar sembari menunggu azan berkumandang.

Perjuangan melawan cuaca ekstrem ini akan mencapai puncaknya besok, Selasa (26/5/2026), saat seluruh jemaah melaksanakan prosesi inti wukuf di Bukit Arafah. Guna mengantisipasi jatuhnya korban, Kementerian Kesehatan Arab Saudi telah menyiagakan korps medis raksasa yang terdiri dari 50.000 petugas kesehatan serta 3.000 unit ambulans yang tersebar di titik-titik krusial.