Teknologi Video Assistant Referee (VAR) kembali menjadi bahan perdebatan panas dalam semifinal Liga Champions 2025/2026. Sejumlah keputusan kontroversial terjadi dalam dua pertandingan besar, yakni Bayern Munchen melawan Paris Saint-Germain (PSG) serta Arsenal kontra Atletico Madrid. Insiden-insiden tersebut memicu reaksi keras dari pemain, pelatih, hingga suporter karena dianggap memengaruhi hasil akhir pertandingan.
Meski VAR hadir untuk membantu wasit mengambil keputusan lebih akurat, kenyataannya teknologi ini masih menyisakan banyak perdebatan. Interpretasi aturan, batas kewenangan VAR, hingga keputusan subjektif wasit tetap menjadi persoalan utama di sepak bola modern.
Pada akhirnya, Arsenal dan PSG berhasil memastikan tiket menuju final Liga Champions. Namun perjalanan keduanya tidak lepas dari kontroversi yang terus dibicarakan publik sepak bola Eropa.
Arsenal Kembali ke Final Setelah 20 Tahun
Arsenal memastikan langkah ke final Liga Champions untuk pertama kali dalam dua dekade setelah menyingkirkan Atletico Madrid. Tim asuhan Mikel Arteta menang tipis 1-0 pada leg kedua semifinal dan unggul agregat setelah sebelumnya bermain imbang 1-1 di pertemuan pertama.

Gol tunggal Bukayo Saka menjadi pembeda dalam pertandingan yang berlangsung penuh tekanan tersebut. Namun, kemenangan Arsenal tidak datang dengan mudah karena Atletico beberapa kali mendapatkan peluang emas dan sempat menuntut dua penalti penting.
Salah satu momen paling kontroversial terjadi ketika William Saliba gagal mengantisipasi bola udara sehingga Giuliano Simeone berhasil mencuri posisi. Pemain Atletico itu kemudian berhadapan langsung dengan kiper David Raya.
Saat Simeone mencoba melepaskan tembakan, Gabriel Magalhaes melakukan recovery penting dari belakang. Kontak antarpemain pun terjadi dan Simeone terjatuh di kotak penalti sebelum bola melenceng.
Para pemain Atletico langsung meminta penalti kepada wasit Daniel Siebert. Mereka menilai Gabriel melakukan pelanggaran yang menghalangi peluang emas mencetak gol. Namun setelah mendapat tinjauan VAR, wasit tetap pada keputusan awal dan hanya memberikan sepak pojok.
Keputusan tersebut memancing protes keras dari kubu Atletico. Pelatih Diego Simeone bahkan terlihat frustrasi di pinggir lapangan karena merasa timnya dirugikan dalam momen krusial semifinal.
Penalti Atletico Kembali Dianulir
Kontroversi belum berhenti sampai di situ. Atletico kembali merasa dirugikan dalam situasi lain di kotak penalti Arsenal.
Kali ini, Riccardo Calafiori terlihat melakukan kontak dengan Antoine Griezmann saat perebutan bola berlangsung. Para pemain Atletico kembali meminta penalti karena menilai ada pelanggaran jelas.
Namun sebelum kontak itu terjadi, wasit ternyata lebih dahulu meniup pelanggaran Marc Pubill terhadap Gabriel Magalhaes. Karena pelanggaran pertama sudah diputuskan, maka potensi penalti untuk Atletico otomatis tidak berlaku.
Keputusan tersebut sesuai aturan permainan, tetapi tetap memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola. Banyak yang menilai Arsenal cukup beruntung lolos dari dua potensi penalti dalam pertandingan sepenting semifinal Liga Champions.
Meski begitu, Arsenal berhasil mempertahankan keunggulan hingga laga usai dan memastikan tempat di partai final. Keberhasilan ini menjadi pencapaian besar bagi The Gunners setelah penantian panjang selama 20 tahun.
PSG Lolos di Tengah Kontroversi Handball
Drama VAR juga terjadi dalam pertandingan antara Bayern Munchen melawan PSG di Allianz Arena. Laga leg kedua semifinal tersebut berlangsung sangat panas karena Bayern wajib menang dengan selisih dua gol untuk membalikkan agregat.
Namun PSG justru mampu unggul cepat melalui gol Ousmane Dembele pada menit ketiga. Gol tersebut membuat tekanan terhadap Bayern semakin besar karena mereka tertinggal agregat cukup jauh.
Di tengah upaya mengejar ketertinggalan, Bayern dibuat geram oleh dua keputusan kontroversial wasit Joao Pinheiro yang dianggap menguntungkan PSG.
Kontroversi pertama melibatkan bek PSG, Nuno Mendes. Pada menit ke-29, bola terlihat mengenai tangan Mendes saat Bayern membangun serangan berbahaya.
Situasi itu langsung memancing protes pemain Bayern karena Mendes sebelumnya sudah menerima kartu kuning. Jika handball tersebut dianggap pelanggaran, maka Mendes seharusnya mendapatkan kartu kuning kedua dan diusir keluar lapangan.
Namun wasit justru memberikan tendangan bebas kepada PSG. Setelah berdiskusi dengan asisten wasit, Pinheiro menilai Konrad Laimer lebih dahulu melakukan handball dalam proses serangan Bayern.
Keputusan itu membuat para pemain dan suporter Bayern semakin marah karena tayangan ulang tidak menunjukkan bukti yang benar-benar jelas soal handball Laimer.
VAR Tak Bisa Intervensi Kartu Kuning Kedua

Banyak penonton bertanya mengapa VAR tidak meninjau insiden tersebut. Ternyata, sesuai protokol IFAB, VAR memang tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi keputusan terkait kartu kuning kedua.
VAR hanya dapat masuk dalam empat situasi utama, yakni gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain. Karena kasus Mendes berkaitan dengan potensi kartu kuning kedua, keputusan sepenuhnya berada di tangan wasit lapangan.
Hal inilah yang kembali menimbulkan kritik terhadap sistem VAR. Banyak pihak menilai aturan tersebut membuat beberapa keputusan penting tidak bisa dikoreksi meski berdampak besar terhadap pertandingan.
Handball Joao Neves Jadi Perdebatan
Kontroversi kedua muncul dua menit setelah insiden Mendes. Bola sapuan Vitinha mengenai tangan Joao Neves di dalam kotak penalti PSG.
Para pemain Bayern langsung meminta penalti karena tangan Neves dianggap dalam posisi tidak natural dan membuat tubuhnya terlihat lebih besar. Namun wasit kembali menolak protes tersebut.
Keputusan itu ternyata sesuai regulasi terbaru IFAB mengenai handball. Dalam aturan terbaru, handball tidak dianggap pelanggaran apabila bola mengenai tangan pemain setelah terlebih dahulu disentuh rekan setim sendiri dalam jarak dekat, kecuali ada unsur kesengajaan.
Karena bola berasal dari sapuan Vitinha dan mengenai tangan Neves tanpa unsur sengaja, maka wasit dianggap mengambil keputusan yang benar.
Meski demikian, aturan tersebut tetap membingungkan banyak penonton. Tidak sedikit yang menilai situasi itu seharusnya tetap dihukum penalti karena posisi tangan Neves dianggap memperbesar area tubuhnya.
VAR Masih Menjadi Perdebatan Besar
Rangkaian kontroversi di semifinal Liga Champions kembali membuktikan bahwa VAR belum mampu menghilangkan perdebatan dalam sepak bola. Teknologi memang membantu mengurangi kesalahan fatal, tetapi interpretasi aturan tetap menjadi sumber masalah utama.
Bagi Bayern Munchen dan Atletico Madrid, sejumlah keputusan wasit terasa sangat merugikan karena terjadi dalam momen penting perebutan tiket final. Sebaliknya, Arsenal dan PSG berhasil memanfaatkan situasi untuk mengamankan langkah menuju partai puncak.
Kini final Liga Champions 2025/2026 akan mempertemukan Arsenal dan PSG dalam duel yang diprediksi berlangsung sengit. Namun sebelum laga final dimainkan, kontroversi VAR di semifinal tampaknya masih akan terus menjadi bahan diskusi panjang di dunia sepak bola Eropa.
