Hubungan AS-China Memanas karena Mineral Langka
Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing pada Mei 2026 menjadi perhatian dunia internasional. Tidak hanya karena pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping, tetapi juga karena Trump membawa sejumlah pemimpin perusahaan teknologi terbesar Amerika Serikat dalam lawatan tersebut. Nama-nama besar seperti CEO Tesla Elon Musk, CEO Nvidia Jensen Huang, hingga CEO Apple Tim Cook turut hadir mendampingi Trump dalam agenda penting di ibu kota China.
Dalam pidato pembukaannya saat bertemu Xi Jinping di Beijing, Trump menyebut bahwa para pemimpin bisnis tersebut hadir untuk memberikan penghormatan sekaligus membuka peluang kerja sama bisnis dengan China. Menurut Trump, ia secara khusus memilih para pemimpin perusahaan terbaik Amerika untuk ikut serta dalam lawatan tersebut.
“Kami meminta 30 perusahaan teratas di dunia. Semuanya mengatakan ya. Saya hanya menginginkan yang terbaik dan mereka hadir di sini hari ini untuk memberi hormat kepada Anda dan kepada China,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa di tengah tensi geopolitik dan perang dagang yang sempat memanas dalam beberapa tahun terakhir, hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan China masih memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Kehadiran para bos perusahaan teknologi besar menjadi sinyal bahwa dunia usaha AS tetap melihat China sebagai pasar sekaligus mitra strategis yang sulit tergantikan.
Trump bahkan secara terbuka memuji Xi Jinping di depan para delegasi yang hadir. Ia menyebut Presiden China sebagai pemimpin hebat dan menilai hubungan kedua negara dapat menjadi lebih baik di masa mendatang.
“Saya mengatakan kepada semua orang, Anda adalah pemimpin yang hebat. Kadang orang tidak suka saya mengatakannya, tetapi saya tetap mengatakannya karena itu benar,” kata Trump kepada Xi Jinping.
Sementara itu, Xi Jinping juga menunjukkan nada diplomatis dalam pertemuan tersebut. Presiden China menegaskan bahwa Beijing dan Washington seharusnya menjadi mitra, bukan rival yang terus bersaing secara agresif. Menurut Xi, kedua negara memiliki tanggung jawab besar terhadap stabilitas global dan ekonomi dunia.
“Kita harus menjadi mitra, bukan saingan, meraih kesuksesan bersama dan menciptakan jalan yang benar bagi negara-negara besar di era baru,” ujar Xi Jinping.
Pernyataan Xi muncul di tengah situasi global yang semakin tidak stabil akibat konflik geopolitik, perang ekonomi, hingga ketegangan militer di sejumlah kawasan dunia. Ia bahkan menyinggung istilah “Perangkap Thucydides”, sebuah teori yang menggambarkan potensi konflik antara kekuatan lama dan kekuatan baru yang sedang bangkit.
China dan Amerika Serikat memang masih terlibat dalam berbagai persaingan strategis, mulai dari teknologi, perdagangan, semikonduktor, hingga pengaruh geopolitik di Asia Pasifik. Namun di balik rivalitas tersebut, kedua negara tetap saling membutuhkan, terutama dalam sektor ekonomi dan industri teknologi.
Salah satu isu utama yang diperkirakan menjadi pembahasan penting dalam pertemuan Trump dan Xi adalah soal ketergantungan Amerika Serikat terhadap mineral tanah jarang dari China. Isu ini semakin mengemuka setelah perang Iran membuat persediaan amunisi dan rudal Amerika mengalami penurunan signifikan.
Para ahli menyebut bahwa hampir seluruh sistem persenjataan modern Amerika Serikat sangat bergantung pada mineral tanah jarang yang sebagian besar diproduksi oleh China. Material tersebut digunakan dalam radar, sistem rudal, laser militer, hingga pesawat tempur canggih seperti F-35.
Sebagai contoh, satu unit pesawat tempur siluman F-35 diketahui membutuhkan ratusan kilogram unsur tanah jarang. Begitu pula rudal jelajah Tomahawk yang digunakan secara intensif selama perang Iran. Rudal tersebut memerlukan material seperti samarium kobalt untuk menjaga daya tahan magnet terhadap suhu tinggi saat penerbangan.
Masalahnya, China saat ini mendominasi rantai pasokan global mineral langka. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing mulai memperketat kontrol ekspor terhadap sejumlah material strategis. Kebijakan itu dinilai sebagai bentuk tekanan politik terhadap Washington, terutama setelah Amerika Serikat menerapkan berbagai pembatasan dagang dan teknologi terhadap perusahaan China.
Mantan pejabat perdagangan pemerintahan George W Bush, Christopher Padilla, menilai perang Iran justru membuat posisi Amerika semakin bergantung pada China.

“Setiap rudal yang ditembakkan ke Iran membuat kita semakin bergantung pada China dan mineral langkanya dalam jangka pendek,” ujarnya.
Situasi tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Trump. Di satu sisi, Amerika Serikat ingin mengurangi ketergantungan terhadap China, terutama dalam rantai pasokan strategis. Namun di sisi lain, kebutuhan industri pertahanan dan teknologi AS masih sangat bergantung pada pasokan dari Beijing.
Pentagon bahkan telah mengajukan anggaran besar untuk mencari sumber alternatif mineral tanah jarang di luar China. Pemerintah AS juga mulai memperkuat kerja sama dengan negara-negara sekutu guna membangun rantai pasokan baru yang lebih aman.
Meski demikian, proses pembangunan rantai pasokan alternatif tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan investasi besar, teknologi, serta waktu bertahun-tahun untuk menciptakan sistem produksi yang mampu menyaingi dominasi China.
Karena itu, pertemuan Trump dan Xi Jinping dipandang sangat penting bagi masa depan hubungan kedua negara. Selain membahas perdagangan dan teknologi, isu keamanan global hingga pasokan mineral strategis kemungkinan menjadi fokus utama pembicaraan.
Lawatan Trump ke Beijing juga memiliki makna simbolis yang besar. Kunjungan ini menjadi perjalanan resmi pertama Presiden Amerika Serikat ke China dalam hampir satu dekade terakhir sejak kunjungannya pada 2017. Setelah kunjungan sebelumnya, hubungan kedua negara justru memburuk akibat perang dagang dan kebijakan tarif yang diberlakukan Washington terhadap produk-produk China.
Kini, situasi tampak sedikit berubah. Meski persaingan masih berlangsung, kedua negara mulai menyadari bahwa kerja sama tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi dunia. Kehadiran tokoh-tokoh bisnis besar seperti Elon Musk, Tim Cook, dan Jensen Huang memperlihatkan bahwa sektor swasta Amerika masih memiliki kepentingan besar di pasar China.
China sendiri tetap menjadi salah satu pasar terbesar bagi Tesla, Apple, maupun Nvidia. Banyak perusahaan teknologi AS masih bergantung pada rantai produksi, manufaktur, dan konsumen di negara tersebut. Oleh sebab itu, membaiknya hubungan Washington dan Beijing akan sangat berpengaruh terhadap stabilitas pasar global.
Di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, pertemuan Trump dan Xi Jinping menjadi sinyal bahwa rivalitas dua negara adidaya belum tentu harus berakhir dengan konflik terbuka. Sebaliknya, kerja sama ekonomi dan diplomasi masih menjadi jalur penting untuk menjaga keseimbangan dunia.
Namun, tantangan ke depan tetap tidak mudah. Persaingan teknologi, perebutan pengaruh global, hingga ketergantungan terhadap sumber daya strategis diperkirakan masih akan menjadi isu utama dalam hubungan Amerika Serikat dan China dalam beberapa tahun mendatang.
