Langit di atas Selat Gibraltar tampak lebih kelabu dari biasanya pada Jumat (20/2/2026), saat bayangan raksasa baja melintas membelah ombak. USS Gerald R. Ford (CVN-78), kapal induk paling canggih sekaligus termahal dalam sejarah militer Amerika Serikat, resmi memasuki Laut Mediterania. Kehadiran “pangkalan udara terapung” ini bukan sekadar rotasi rutin, melainkan perintah langsung dari Gedung Putih di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump untuk memperkuat eskalasi kekuatan militer AS secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah.
Kedatangan yang Lebih Cepat dari Prediksi
Pergerakan armada tempur ini terpantau melalui lensa kamera AFP saat melintasi selat yang menghubungkan Samudra Atlantik dengan Mediterania. Menariknya, USS Gerald R. Ford tiba jauh lebih awal dari perkiraan semula yang diprediksi baru akan mencapai kawasan tersebut dalam tiga pekan ke depan.
Akselerasi pengerahan ini disinyalir merupakan respons langsung terhadap kegagalan jalur diplomasi terkait perjanjian nuklir Teheran. Presiden Trump sebelumnya telah menegaskan bahwa dirinya tidak akan ragu mengambil opsi serangan terbatas terhadap Iran jika negosiasi kesepakatan baru menemui jalan buntu.
Pemandangan Langka: Dua Kapal Induk Beroperasi Bersamaan
Masuknya USS Gerald R. Ford menciptakan skenario militer yang sangat jarang terjadi: pengerahan dua kapal induk secara bersamaan dalam satu wilayah operasi tunggal. Ford tidak datang sendirian; ia didampingi oleh tiga kapal perusak tambahan yang akan bergabung dengan kekuatan yang sudah ada di lapangan.
Saat ini, kekuatan maritim AS di Timur Tengah telah melonjak drastis:
- Armada Sebelumnya: Terdiri dari kapal induk USS Abraham Lincoln, sembilan kapal perusak, dan tiga kapal tempur pesisir.
- Armada Saat Ini: Dengan bergabungnya grup tempur Ford, total armada perang AS di kawasan tersebut kini mencapai 17 kapal tempur.
Kedua kapal induk ini membawa kekuatan yang mengerikan, diawaki oleh ribuan pelaut profesional dan mengusung sayap udara (air wing) yang terdiri dari puluhan jet tempur yang siap meluncur dalam hitungan menit.
Baca Juga
Supremasi Udara dan Pertahanan Berlapis
Selain kekuatan di permukaan laut, Washington telah memobilisasi aset udara paling elit milik Angkatan Udara AS (USAF) ke pangkalan-pangkalan strategis di Timur Tengah. Kekuatan udara ini dirancang untuk melakukan penetrasi jauh ke wilayah lawan sekaligus memberikan perlindungan bagi pasukan di darat.
Daftar aset udara yang dikerahkan mencakup:
- Jet Siluman Generasi Kelima: F-22 Raptor dan F-35 Lightning.
- Jet Tempur Multiperan: F-15 dan F-16.
- Dukungan Logistik: Pesawat pengisian bahan bakar di udara KC-135 yang memastikan operasional pesawat tempur tanpa batas jarak.
Untuk mengantisipasi serangan balasan dari Iran, AS juga memperkuat sistem pertahanan udara berbasis darat serta menyiagakan kapal perusak berpeluru kendali yang mampu mencegat rudal balistik maupun drone di laut.
Risiko Tinggi bagi Puluhan Ribu Personel
Meskipun strategi ofensif saat ini difokuskan pada kekuatan udara dan laut tanpa melibatkan pasukan darat secara langsung, risiko tetap menghantui. Amerika Serikat tercatat memiliki puluhan ribu personel militer yang tersebar di berbagai pangkalan di seluruh Timur Tengah. Keberadaan mereka menjadi titik rentan yang bisa menjadi sasaran serangan balasan jika konflik terbuka benar-benar pecah.
Perbandingan Kekuatan Armada AS di Timur Tengah (Februari 2026)
| Komponen | Jumlah Sebelum Ford Tiba | Jumlah Setelah Ford Tiba |
| Kapal Induk | 1 (USS Abraham Lincoln) | 2 (Tambah USS Gerald R. Ford) |
| Kapal Perusak | 9 | 12 |
| Kapal Tempur Pesisir | 3 | 3 |
| Total Armada Laut | 13 Kapal | 17 Kapal |
Kehadiran USS Gerald R. Ford di Mediterania menjadi simbol “Diplomasi Kapal Induk” yang nyata. Di tengah bayang-bayang konflik, dunia kini menanti apakah tekanan militer masif ini akan memaksa Teheran kembali ke meja perundingan atau justru memicu konfrontasi terbuka di salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia.
