Tokyo, Februari 2026 – Jepang, negara yang dikenal dengan kecanggihan teknologinya dalam menghadapi bencana alam, kini tengah bertekuk lutut di hadapan kekuatan alam yang tak terduga. Dalam dua pekan terakhir, massa udara dingin yang sangat kuat dari Siberia melintasi Laut Jepang, mengubah wilayah pesisir utara menjadi daratan putih yang mematikan. Hingga Selasa (3/2/2026), dilaporkan sedikitnya 30 orang telah kehilangan nyawa dalam apa yang disebut sebagai salah satu hujan salju paling ekstrem dalam satu dekade terakhir.
Tragedi di Balik Tumpukan Salju: Kisah Kina Jin
Di Prefektur Aomori, wilayah yang paling parah terdampak, kisah pilu menyelimuti desa Ajigasawa. Kina Jin, seorang wanita berusia 91 tahun, ditemukan tidak bernyawa di bawah tumpukan salju setinggi tiga meter tepat di depan rumahnya. Kematian tragis ini bukan disebabkan oleh suhu dingin semata, melainkan fenomena yang disebut warga lokal sebagai “pembunuh dari atap.”
Polisi setempat menduga bahwa volume salju yang luar biasa berat di atap rumahnya runtuh seketika, menimbun tubuh rentanya tanpa sempat memberikan kesempatan untuk meminta tolong. Hasil otopsi sementara menunjukkan penyebab kematian adalah asphyxiation atau sesak napas akibat tekanan beban salju yang sangat berat. Tragedi ini menjadi pengingat pahit bagi masyarakat Jepang tentang risiko tinggal di bawah struktur bangunan yang dipenuhi salju saat suhu mulai menghangat sedikit, yang memicu keruntuhan massa salju secara masif.
Pemerintah dalam Kondisi Siaga Satu
Skala bencana yang meluas memaksa Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk mengambil langkah darurat. Pada Selasa pagi, ia memimpin pertemuan kabinet khusus di Tokyo untuk menginstruksikan seluruh jajaran menteri agar mengerahkan segala daya guna mencegah bertambahnya korban jiwa.
“Prioritas utama kita adalah menyelamatkan nyawa. Kita tidak boleh membiarkan warga kita, terutama lansia yang tinggal sendirian, terisolasi tanpa bantuan di tengah gundukan salju yang mengancam nyawa,” tegas PM Takaichi dalam instruksinya.
Gubernur Aomori, Soichiro Miyashita, telah mengambil langkah ekstrem dengan meminta bantuan Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF). Militer kini diterjunkan ke daerah-daerah terpencil di mana dinding salju mencapai ketinggian 4,5 meter—sebuah rekor yang dua kali lipat lebih tinggi dari rata-rata tahunan. Kehadiran militer sangat krusial karena para pekerja lokal dan relawan sudah mencapai titik jenuh dan kelelahan fisik yang luar biasa.

Ancaman Nyata bagi Populasi Lansia
Krisis ini menyingkap kerentanan sosial Jepang: fenomena Kodokushi (kematian dalam kesendirian) di wilayah pedesaan yang menua. Sebagian besar dari 30 korban yang meninggal sejak 20 Januari adalah warga lanjut usia. Banyak dari mereka tewas saat mencoba membersihkan salju dari atap rumah mereka sendiri karena tidak ada anggota keluarga muda yang membantu.
Dinding salju setinggi 1,8 meter kini menutupi jalan-jalan utama di ibu kota Prefektur Aomori, memutus akses logistik dan bantuan medis. Gubernur Miyashita memperingatkan bahwa bahaya “insiden yang mengancam jiwa” sudah berada di depan mata, merujuk pada potensi bangunan runtuh akibat beban salju yang tak lagi mampu ditahan oleh struktur kayu tradisional.
Analisis Meteorologi: Mengapa Begitu Ekstrem?
Pakar cuaca di Badan Meteorologi Jepang menjelaskan bahwa tahun 2026 ini terjadi anomali pola tekanan udara. Massa udara dingin yang mengalir dari kutub tertahan lebih lama di atas Laut Jepang, yang airnya relatif lebih hangat. Pertemuan dua massa ini menciptakan awan salju raksasa yang terus menerus mengguyur wilayah Tohoku dan Hokkaido tanpa henti selama 14 hari berturut-turut.
Beberapa kota kecil melaporkan bahwa mereka kehabisan tempat untuk membuang salju. Sungai-sungai mulai meluap karena tumpukan salju yang didorong ke air, sementara pelabuhan terpaksa ditutup karena jarak pandang yang nol akibat badai salju (whiteout).
Langkah Mitigasi dan Imbauan Keamanan
Pemerintah Jepang kini mengeluarkan protokol keamanan baru bagi warga di wilayah terdampak:
- Dilarang membersihkan salju sendirian: Warga diminta bekerja secara berkelompok agar ada yang bisa memberikan pertolongan jika terjadi kecelakaan.
- Penggunaan Alat Keselamatan: Penggunaan tali pengaman dan helm saat menaiki atap rumah diwajibkan.
- Waspada Area Bawah Atap: Mengingat kasus Kina Jin, warga dilarang keras berjalan atau berdiri di dekat dinding rumah yang memiliki tumpukan salju menggantung di atap.
Jepang sedang diuji. Di balik keindahan pemandangan “pohon salju” yang biasanya menarik wisatawan, kini tersimpan duka dan perjuangan untuk bertahan hidup. Bantuan militer dan komitmen pemerintah pusat diharapkan mampu meredam krisis ini sebelum musim semi tiba. Bagi dunia, tragedi ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana perubahan pola cuaca ekstrem dapat melumpuhkan bahkan negara paling siap sekalipun.
Kesimpulan: Hujan salju ekstrem di Jepang tahun 2026 bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan krisis kemanusiaan yang menyerang kelompok paling rentan. Sinergi antara militer, pemerintah, dan masyarakat lokal menjadi satu-satunya kunci untuk melewati musim dingin yang mematikan ini.
