Insiden tragis yang menimpa jet tempur ringan (LCA) buatan India, Tejas, di ajang bergengsi Dubai Airshow 2025 pada Jumat (21/11/2025), bukan hanya sekadar kecelakaan penerbangan biasa. Peristiwa naas yang merenggut nyawa pilot pemberani, Mayor Namansh Syal, ini telah menjelma menjadi pukulan telak dan sangat publik bagi ambisi dan kebanggaan industri pertahanan nasional India di mata dunia.
Kecelakaan tersebut terjadi tepat di hadapan ratusan delegasi, pembeli senjata potensial internasional, dan media global, dalam sebuah pameran dirgantara terbesar ketiga di dunia setelah Paris dan Farnborough. Momen ini diperkirakan akan secara signifikan memperberat upaya India untuk memasarkan Tejas ke luar negeri, memaksa pesawat yang dirancang sebagai simbol kemandirian teknologi ini kembali bergantung pada pesanan militer domestik agar tetap bertahan.
Pukulan di Tengah Persaingan Geopolitik Sengit
Kecelakaan Tejas di Dubai Airshow terjadi di tengah latar belakang persaingan pengaruh geopolitik dan industri pertahanan yang sangat kental. Pameran ini juga dihadiri oleh delegasi pertahanan dan kontraktor dari Pakistan, yang merupakan rival utama India. Ironisnya, insiden ini terjadi hanya enam bulan setelah kedua negara tersebut terlibat dalam pertempuran udara terbesar dalam beberapa dekade terakhir, sebuah konflik yang menyoroti pentingnya superioritas udara dan reliabilitas alutsista.
Bagi para analis pertahanan global, kerugian publik seperti insiden ini di panggung internasional akan menjadi ‘bayangan hitam’ yang membayangi seluruh kampanye ekspor India, sebuah upaya yang telah diperjuangkan selama lebih dari empat dekade sejak program pengembangan Tejas dimulai pada 1980-an.
Douglas A. Birkey, direktur eksekutif Mitchell Institute for Aerospace Studies yang berbasis di Amerika Serikat, tidak ragu menyebut kecelakaan Tejas di pameran udara sekelas Dubai sebagai “sebuah kegagalan promosi yang monumental”. Ini adalah demonstrasi yang seharusnya memamerkan agilitas dan keamanan jet, namun malah berakhir dengan bencana.
Realitas Politik vs. Citra Negatif
Meskipun demikian, Birkey menambahkan bahwa ada harapan bagi Tejas untuk kembali mendapatkan momentum, terlepas dari publisitas negatif yang masif. Sejarah menunjukkan bahwa insiden tragis di pameran udara tidak selalu menghentikan penjualan senjata. Sebagai contoh, pesawat Rusia Sukhoi Su-30 jatuh saat bermanuver di Paris Airshow pada 1999, dan MiG-29 Uni Soviet jatuh satu dekade sebelumnya. Meskipun kecelakaan-kecelakaan itu terjadi, India tetap melanjutkan dan memperbesar pesanan untuk kedua jenis jet tempur tersebut.
“Penjualan jet tempur didorong oleh realitas politik tingkat tinggi yang melampaui insiden tunggal,” tegas Birkey. Hal ini mengacu pada fakta bahwa keputusan pembelian alutsista seringkali didikte oleh aliansi strategis, kebutuhan mendesak untuk menyeimbangkan kekuatan regional, dan paket kesepakatan diplomatik, bukan hanya performa teknis di lapangan.
Namun, untuk Tejas, yang diproduksi oleh Hindustan Aeronautics Ltd (HAL), tantangannya jauh lebih kompleks. Program Tejas dirancang sebagai pengganti jet era Soviet MiG-21, yang baru saja dipensiunkan pada September lalu setelah berkali-kali diperpanjang masa operasionalnya karena lambatnya pengiriman Tejas.
Masalah Domestik yang Menjadi Hambatan Global
Masalah terbesar Tejas bukan hanya kecelakaan di Dubai, melainkan masalah internal kronis dalam industri pertahanan India. HAL saat ini memiliki pesanan domestik yang besar, yaitu 180 unit varian canggih Mk-1A untuk kebutuhan Angkatan Udara India. Namun, HAL belum dapat memulai pengiriman tepat waktu karena masalah rantai pasokan mesin dari GE Aerospace di Amerika Serikat. Keterlambatan ini menciptakan keraguan serius mengenai kemampuan HAL untuk memenuhi komitmen ekspor.
Seorang mantan eksekutif senior HAL, yang baru keluar dari perusahaan, menyatakan secara blak-blakan bahwa kecelakaan di Dubai “menghapus peluang ekspor untuk saat ini.”
Mantan eksekutif tersebut menjelaskan bahwa pasar potensial Tejas sangat luas, mencakup negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang mencari alternatif jet tempur yang lebih terjangkau dan tidak terikat pada blok Barat atau Rusia secara eksklusif. Upaya strategis HAL, seperti pembukaan kantor perwakilan di Malaysia pada tahun 2023, menunjukkan betapa seriusnya India dalam mengejar pasar Asia Tenggara, khususnya setelah Malaysia mempertimbangkan Tejas.
Kini, seluruh upaya pemasaran itu berisiko sia-sia. Kecelakaan yang begitu terekspos tidak hanya menyoroti masalah teknis (meskipun penyebabnya belum diumumkan) tetapi juga menodai citra keamanan dan keandalan jet tersebut di mata pembeli skeptis. Bagi India, tragedi di Dubai Airshow adalah pengingat menyakitkan bahwa ambisi untuk menjadi pemain utama dalam ekspor senjata global membutuhkan lebih dari sekadar teknologi; ia membutuhkan rekam jejak yang sempurna, terutama ketika bersaing dengan raksasa seperti AS, Rusia, dan Tiongkok.
