Wanita Dimutilasi di Turki

ISTANBUL – Musim dingin di Istanbul, Turki, berubah mencekam setelah sebuah tabir gelap terungkap dari balik tempat sampah di distrik Sisli. Kota yang dikenal dengan keindahan sejarahnya ini mendadak gempar menyusul penemuan dua jenazah wanita asal Uzbekistan dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Keduanya menjadi korban pembunuhan keji dengan metode mutilasi yang terencana.

Pihak berwenang Turki bergerak cepat setelah laporan pertama muncul. Hingga Jumat (13/2/2026), Kepolisian Istanbul mengonfirmasi telah mengamankan dua pria yang juga berkewarganegaraan Uzbekistan. Keduanya diduga kuat sebagai otak di balik aksi brutal yang merenggut nyawa kompatriot mereka sendiri.

Kronologi Penemuan: Jejak dari Tempat Sampah

Kasus ini mulai terkuak ketika petugas kebersihan di area Sisli menemukan bungkusan mencurigakan di dalam sebuah tempat sampah umum. Saat dibuka, pemandangan mengerikan tersaji: sesosok mayat tanpa kepala yang terbungkus kain rapat. Tidak hanya kehilangan bagian kepala, kedua kaki jenazah tersebut juga telah dimutilasi dengan sangat rapi, mengindikasikan bahwa pelaku menggunakan alat tajam yang sangat khusus.

Setelah dilakukan proses identifikasi forensik yang intensif, korban pertama dikenali sebagai Durdona Khakimova, wanita berusia 37 tahun asal Uzbekistan. Penemuan ini langsung memicu operasi besar-besaran oleh tim investigasi kriminal Istanbul.

Melalui bantuan rekaman CCTV yang terpasang di sekitar lokasi pembuangan dan jalur akses utama, polisi berhasil melacak pergerakan mencurigakan dua pria. Tak butuh waktu lama, tim kepolisian berhasil meringkus kedua tersangka di Bandara Istanbul tepat saat mereka sedang mengantre untuk melewati pemeriksaan paspor, diduga kuat dalam upaya melarikan diri kembali ke negara asal mereka atau menuju negara ketiga.

Korban Kedua dan Benang Merah Kematian

Penyelidikan tidak berhenti pada Khakimova. Berdasarkan keterangan saksi dan pemeriksaan digital, polisi mencurigai adanya korban lain. Benar saja, laporan dari media lokal DHA News dan Halk TV menyebutkan bahwa potongan tubuh kedua ditemukan tersebar di beberapa tempat sampah berbeda di penjuru kota Istanbul untuk menghilangkan jejak.

Korban kedua diidentifikasi sebagai Ergashalieva Sayyora, wanita Uzbekistan berusia 32 tahun. Data imigrasi menunjukkan bahwa Sayyora baru saja tiba di Turki pada 28 Desember 2025. Ia diketahui masih aktif berkomunikasi dengan keluarganya di Uzbekistan hingga tanggal 23 Januari 2026, yang kini diyakini sebagai hari nahas bagi dirinya dan Khakimova.

Analisis tempat kejadian perkara (TKP) menyimpulkan bahwa kedua wanita ini dieksekusi di lokasi yang sama—sebuah apartemen di distrik Sisli. Keduanya diduga tinggal bersama di kediaman tersebut sebelum para tersangka melakukan aksi kejinya secara beruntun.

Baca Juga

Terbongkarnya Industri Gelap Kamera Tersembunyi di Ribuan Kamar Hotel China

Motif yang Masih Menjadi Misteri

Hingga saat ini, motif di balik pembunuhan sadis ini masih menyisakan tanda tanya besar bagi publik maupun otoritas keamanan Turki. Mengingat para korban dan tersangka berasal dari negara yang sama, muncul berbagai spekulasi di tengah masyarakat, mulai dari sengketa keuangan, masalah asmara, hingga kemungkinan keterlibatan dalam jaringan kriminal terorganisir.

Namun, pihak kepolisian masih bersikap tertutup demi kelancaran penyidikan. “Kami sedang mendalami semua kemungkinan. Proses interogasi terhadap kedua tersangka sedang berlangsung intensif untuk mengungkap alasan di balik kekejaman ini,” ujar salah satu sumber kepolisian yang terlibat dalam kasus tersebut.

Dampak Psikologis bagi Komunitas Ekspatriat

Kasus mutilasi ini memberikan dampak psikologis yang signifikan, terutama bagi komunitas ekspatriat asal Uzbekistan dan Asia Tengah yang menetap di Istanbul. Distrik Sisli, yang biasanya dikenal sebagai kawasan bisnis dan pemukiman yang relatif aman, kini berada dalam pengawasan ketat.

Pemerintah Uzbekistan dikabarkan telah berkoordinasi dengan otoritas Turki untuk memfasilitasi pemulangan jenazah para korban serta memastikan bahwa keadilan ditegakkan bagi warga negara mereka. Kejadian ini juga menjadi pengingat pahit tentang risiko keamanan yang dihadapi oleh pekerja migran atau pendatang asing di kota-kota besar.

Istanbul dalam Sorotan Keamanan

Penangkapan para tersangka di bandara menunjukkan respons cepat dari aparat penegak hukum Turki. Penggunaan teknologi pengenalan wajah dan integrasi sistem pemantauan kota (CCTV) terbukti menjadi instrumen krusial dalam menggagalkan upaya pelarian para pelaku.

Masyarakat Istanbul kini menanti proses persidangan yang diharapkan dapat membuka tabir motif sebenarnya. Tragedi ini bukan hanya tentang hilangnya dua nyawa dengan cara yang tragis, tetapi juga tentang bagaimana hukum harus berdiri tegak di atas aksi biadab yang tidak manusiawi.

Dengan tertangkapnya dua terduga pelaku, setidaknya satu langkah menuju keadilan telah diambil. Namun, duka mendalam bagi keluarga Khakimova dan Sayyora di Uzbekistan tidak akan pernah bisa terhapus oleh apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *