BERGAMO – Stadion Gewiss (New Balance Arena) menjadi saksi bisu salah satu comeback paling luar biasa dalam sejarah modern Liga Champions UEFA. Pada Rabu (25/2/2026) malam waktu setempat, Atalanta berhasil menjungkirbalikkan prediksi dengan melumat raksasa Jerman, Borussia Dortmund, dengan skor telak 4-1 pada laga leg kedua babak playoff. Kemenangan ini membawa skuad asuhan Raffaele Palladino melenggang ke babak 16 besar dengan keunggulan agregat tipis 4-3, setelah sebelumnya tertinggal 0-2 di leg pertama.

Babak Pertama: Serangan Kilat La Dea

Datang dengan beban defisit dua gol dari laga di Signal Iduna Park, Atalanta langsung tancap gas sejak peluit pertama dibunyikan. Tak butuh waktu lama bagi tuan rumah untuk memecah kebuntuan. Pada menit ke-5, Gianluca Scamacca berhasil memanfaatkan kelengahan barisan pertahanan Dortmund yang dikawal Ramy Bensebaini untuk menceploskan bola dari jarak dekat. Skor 1-0 ini membakar semangat ribuan pendukung fanatik di Bergamo.

Dortmund, yang dilatih oleh Niko Kovač, mencoba merespons melalui Julian Brandt, namun disiplinnya lini belakang Atalanta membuat tim tamu kesulitan mengembangkan permainan. Petaka bagi Dortmund kembali hadir tepat sebelum turun minum. Pada menit ke-45, Davide Zappacosta melepaskan tembakan keras dari tepi kotak penalti yang sempat mengenai pemain lawan sehingga mengecoh kiper Gregor Kobel. Babak pertama ditutup dengan skor 2-0, yang berarti agregat menjadi imbang 2-2.

Babak Kedua: Jual Beli Serangan dan Napas Buatan Adeyemi

Memasuki paruh kedua, intensitas pertandingan semakin memuncak. Atalanta berhasil membalikkan kedudukan agregat untuk pertama kalinya pada menit ke-57. Berawal dari umpan silang akurat Marten de Roon, Mario Pašalić menyambutnya dengan sundulan tajam ke pojok gawang. Skor 3-0 membuat Dortmund terpojok dan terancam tersingkir dalam waktu normal.

Dalam kondisi tertekan, Kovač melakukan pergantian pemain dengan memasukkan Karim Adeyemi. Keputusan ini terbukti jitu. Pada menit ke-75, Adeyemi mencetak gol indah lewat sepakan melengkung yang bersarang di tiang jauh gawang Marco Carnesecchi. Gol ini mengubah skor menjadi 3-1 (agregat 3-3) dan seolah mengisyaratkan pertandingan akan berlanjut ke babak tambahan waktu (extra time).

Drama Menit Akhir dan Hujan Kartu Merah

Drama yang sesungguhnya terjadi di masa injury time. Saat semua orang mengira laga akan berlanjut ke perpanjangan waktu, sebuah insiden di kotak penalti Dortmund mengubah segalanya. Kiper Gregor Kobel melakukan kesalahan saat mencoba menghalau bola, yang memicu serangan balik cepat Atalanta.

Dalam kemelut tersebut, bek Dortmund Ramy Bensebaini melakukan pelanggaran fatal dengan mengangkat kaki terlalu tinggi hingga mengenai kepala penyerang pengganti Atalanta, Nikola Krstovic. Setelah peninjauan melalui VAR, wasit José María Sánchez Martínez menunjuk titik putih dan memberikan kartu kuning kedua (merah) kepada Bensebaini.

Ketegangan tidak berhenti di sana. Protes keras dari bangku cadangan membuat wasit mengeluarkan kartu merah langsung untuk Nico Schlotterbeck. Bahkan, bek Atalanta Giorgio Scalvini yang sudah ditarik keluar pun ikut terkena kartu merah akibat keributan di pinggir lapangan.

Pada menit ke-90+8, Lazar Samardžić maju sebagai algojo. Dengan penuh ketenangan, ia mengarahkan bola ke pojok atas gawang tanpa mampu dijangkau Kobel. Gol tersebut tercatat sebagai salah satu gol kemenangan paling larut dalam sejarah fase gugur Liga Champions. Skor berakhir 4-1 untuk kemenangan Atalanta.

Statistik dan Dampak Pertandingan

Secara statistik, Atalanta memang layak menang dengan melepaskan lebih banyak tembakan tepat sasaran dibandingkan tim tamu. Hasil ini memastikan Italia tetap memiliki wakil di fase gugur Liga Champions musim ini. Bagi Dortmund, kekalahan ini menjadi pukulan telak mengingat mereka memegang keunggulan dua gol di awal laga.


Susunan Pemain:

  • Atalanta (3-4-2-1): Carnesecchi; Scalvini, Hien, Kolasinac; Zappacosta, De Roon, Pasalic, Bernasconi; Samardzic, Zalewski; Scamacca.
  • Borussia Dortmund (3-4-2-1): Kobel; Can, Anton, Bensebaini; Ryerson, Bellingham, Nmecha, Svensson; Beier, Brandt; Guirassy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *