BEIJING – Industri hiburan digital China tengah berada di persimpangan jalan yang krusial. Memasuki awal tahun 2026, lanskap konten video pendek atau yang lebih dikenal sebagai “drama mikro” (micro-dramas) mengalami transformasi radikal. Bukan karena penurunan minat penonton, melainkan karena gelombang regulasi ketat yang dilancarkan oleh pemerintah pusat untuk membersihkan ekosistem digital dari konten yang dianggap “merusak moral bangsa.”
Drama mikro, yang biasanya difilmkan dalam format vertikal dengan durasi sekitar satu menit per episode, telah menjadi candu digital bagi jutaan warga China. Namun, masa keemasan narasi “Cinderella modern”—di mana gadis miskin mendadak dinikahi CEO kaya raya—kini resmi berakhir di bawah pengawasan ketat Administrasi Radio dan Televisi Nasional China (NRTA).
Mengakhiri Fantasi “CEO dan Gadis Miskin”
Sejak November 2024, Beijing telah mengeluarkan pedoman tegas yang melarang produksi drama yang mendistorsi nilai-nilai pernikahan. Pemerintah China memandang bahwa narasi yang terlalu mengagungkan kekayaan, kekuasaan, dan pernikahan dengan individu dari kelas atas dapat menciptakan persepsi publik yang salah.
Narasi-narasi ini dianggap mempromosikan cita-cita yang tidak realistis dan memperkuat obsesi terhadap materialisme. China menekankan bahwa pernikahan seharusnya didasarkan pada nilai-nilai luhur, bukan sebagai tiket instan menuju kekayaan dalam semalam. Para kreator kini diwajibkan untuk menjauhi plot “absurd” yang membungkus materialisme dengan kedok romansa, demi menjaga kesehatan mental kolektif masyarakat, terutama generasi muda.

Baca Juga:
Sidharto Reza Suryodipuro Terpilih Jadi Presiden Dewan HAM PBB 2026
Lisensi Ketat: Filter Baru Industri Hiburan
Langkah pembersihan ini semakin dipertegas pada Februari 2025. Pemerintah China memberlakukan sistem lisensi wajib bagi seluruh drama mikro yang akan ditayangkan secara online. Artinya, tidak ada lagi ruang bagi konten amatir yang diproduksi secara sembarangan tanpa melewati meja sensor pemerintah.
Setiap drama pendek kini harus memiliki izin distribusi film daring atau nomor registrasi resmi sebelum dapat menyentuh layar ponsel pengguna. NRTA secara eksplisit melarang platform audiovisual seperti Douyin (TikTok versi China) atau Kuaishou untuk memberikan panggung bagi drama yang tidak berizin. Kebijakan ini merupakan upaya kontrol total Partai Komunis terhadap narasi budaya yang dikonsumsi publik.
Perang Melawan Hedonisme dan Kesuksesan Instan
Regulasi terbaru di tahun 2026 ini juga menargetkan penggambaran pengusaha. Kreator diminta untuk berhenti menampilkan pengusaha China sebagai sosok pesolek yang hanya sibuk dengan perselisihan keluarga atau kisah cinta picisan. Sebaliknya, mereka didorong untuk menceritakan kisah nyata perjuangan kewirausahaan yang berakar pada realisme dan nilai-nilai arus utama.
Pemerintah memperingatkan terhadap konten yang memamerkan kemewahan berlebihan (hedonisme) dan “fleksing” kekuasaan. Fokus dialihkan pada narasi yang mempromosikan kerja keras dan kontribusi sosial, alih-alih pandangan tentang mendapatkan sesuatu dengan mudah atau kesuksesan instan tanpa keringat.
Raksasa Ekonomi yang Menggetarkan Hollywood
Meski ditekan oleh berbagai aturan, potensi ekonomi drama mikro tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan nilai pasar yang menembus angka 5 miliar dolar AS per tahun, format video pendek ini telah menjadi pesaing serius bagi industri film tradisional. Beberapa analis hiburan internasional bahkan berpendapat bahwa secara agregat, volume konsumsi dan perputaran uang di industri drama mikro China hanya kalah dari dominasi Hollywood di Amerika Serikat.
Efisiensi biaya produksi—di mana satu musim drama bisa diselesaikan dalam hitungan hari dengan biaya minim namun menghasilkan keuntungan jutaan yuan melalui sistem pay-per-view—membuat industri ini sangat seksi bagi investor. Namun, model bisnis ini pulalah yang memicu maraknya konten vulgar demi menarik perhatian penonton dalam detik-detik pertama.
Pembersihan Massal: Jutaan Episode Dihapus
Sebagai bukti keseriusan, antara akhir 2024 hingga awal 2026, regulator telah melakukan kampanye perbaikan besar-besaran. Hasilnya sangat mengejutkan: lebih dari 25.300 judul drama mikro dan hampir 1,4 juta episode dihapus secara permanen dari internet.
Alasan penghapusan ini beragam, mulai dari mengandung unsur pornografi, kekerasan yang berlebihan (berdarah), hingga konten yang dinilai “murahan” dan vulgar. Langkah ini mengirimkan pesan jelas kepada para studio produksi: kualitas dan kepatuhan pada nilai moral negara kini jauh lebih penting daripada sekadar jumlah view.
Kini, para kreator drama mikro di China harus memutar otak. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan alur cerita yang tetap memikat dan penuh kejutan (plot twist) dalam durasi satu menit, namun tetap berada dalam koridor regulasi yang ketat.
Beberapa pengamat memprediksi bahwa industri ini akan mengalami pemurnian. Studio-studio kecil yang hanya mengandalkan sensualitas dan tema murahan akan gulung tikar, sementara pemain besar yang mampu memproduksi drama berkualitas tinggi dengan nilai-nilai positif akan mendominasi pasar.
Era drama mikro sebagai “sampah digital” telah usai. China kini tengah mencoba membangun standar baru di mana hiburan kilat harus berjalan selaras dengan etika publik. Bagi dunia internasional, fenomena ini menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana sebuah negara besar berupaya menjinakkan algoritma dan tren konsumsi konten demi kedaulatan budaya.
