Virus Nipah

KOLKATA – Kabar duka menyelimuti dunia medis India Timur setelah seorang perawat muda dilaporkan meninggal dunia akibat paparan Virus Nipah. Wanita berusia 25 tahun tersebut mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan infeksi mematikan yang ditularkan oleh kelelawar, menandai salah satu dari dua kasus konfirmasi yang mengguncang wilayah Bengal Barat baru-baru ini.

Kejadian tragis ini menjadi pengingat pahit tentang risiko besar yang dihadapi oleh para tenaga kesehatan yang berada di garis depan penanganan penyakit menular. Berdasarkan keterangan resmi, perawat tersebut tertular virus saat sedang menjalankan tugasnya merawat pasien di rumah sakit.

Kronologi Perjuangan Melawan Infeksi

Kisah pilu ini bermula pada Desember 2025, ketika perawat wanita tersebut bersama seorang rekan sejawat pria berusia 27 tahun dari rumah sakit yang sama mulai merasakan gejala demam tinggi. Namun, apa yang awalnya tampak seperti flu biasa dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk medis.

Hanya dalam hitungan hari, kondisi kesehatan keduanya memburuk secara drastis. Gejala-gejala neurologis yang berat mulai muncul, meliputi:

  • Kejang-kejang yang tidak terkendali.
  • Sakit kepala hebat yang tak tertahankan.
  • Perubahan kesadaran atau disorientasi total.

Kondisi kritis tersebut memaksa pihak rumah sakit untuk segera memindahkan mereka ke unit perawatan intensif (ICU). Sejak awal Januari 2026, sang perawat wanita telah bergantung sepenuhnya pada alat bantu pernapasan (ventilator) demi bertahan hidup.

Baca Juga

Membongkar ‘Kitchen Lab’ Sabu Iran di Jantung Jakarta

Gagal Organ Multipel: Titik Akhir Perjuangan

Setelah berminggu-minggu dalam kondisi kritis, tubuh perawat muda tersebut akhirnya mencapai titik nadir. Sekretaris Kesehatan setempat, Narayan Swaroop Nigam, mengonfirmasi bahwa penyebab langsung kematian korban adalah serangan jantung yang dipicu oleh komplikasi sistemik yang parah.

Korban dilaporkan mengalami Multiple Organ Failure (MOF) atau yang secara medis dikenal sebagai Multiple Organ Dysfunction Syndrome (MODS). Kondisi akut ini terjadi ketika dua atau lebih sistem organ dalam tubuh berhenti berfungsi secara bersamaan. Dalam kasus infeksi virus seganas Nipah, MOF mempersulit tubuh untuk tetap bekerja meskipun telah mendapatkan bantuan alat bantu hidup yang paling canggih sekalipun.

“Wanita itu, yang berada dalam kondisi kritis, meninggal karena serangan jantung setelah mengalami kegagalan organ yang meluas,” ungkap Nigam saat memberikan keterangan kepada media.

Satu Pulih, Satu Gugur

Di tengah awan hitam yang menyelimuti kasus ini, terdapat sedikit titik terang bagi rekan pria korban. Perawat pria berusia 27 tahun yang dirawat bersamaan dengan korban dilaporkan berhasil melewati masa kritisnya. Setelah menjalani perawatan intensif dan pemantauan ketat, ia dinyatakan pulih dan telah diperbolehkan pulang ke rumah.

Namun, keberhasilan pemulihan satu pasien tidak mengurangi kewaspadaan otoritas kesehatan. Tragedi ini terjadi hanya beberapa hari setelah seorang wanita di negara tetangga, Bangladesh, juga dilaporkan meninggal dunia akibat virus yang sama. Hal ini memicu kekhawatiran akan adanya potensi penyebaran regional yang lebih luas dari Virus Nipah, yang secara alami dibawa oleh kelelawar buah (Pteropodidae).

Waspada Ancaman Virus Nipah

Virus Nipah dikategorikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu penyakit dengan potensi epidemi karena tingkat kematiannya yang sangat tinggi, berkisar antara 40% hingga 75%. Virus ini dapat menyebar ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi (seperti kelelawar atau babi) atau melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi oleh air liur atau urine hewan tersebut.

Lebih mengkhawatirkan lagi, transmisi dari manusia ke manusia juga mungkin terjadi, terutama di lingkungan fasilitas kesehatan, seperti yang dialami oleh perawat malang di India Timur ini. Kurangnya protokol keamanan hayati (biosafety) yang ketat atau alat pelindung diri (APD) yang memadai dapat mengubah rumah sakit menjadi pusat penyebaran baru.

Langkah Darurat Otoritas Kesehatan

Menanggapi kematian perawat tersebut, otoritas kesehatan di Bengal Barat segera melakukan langkah-langkah darurat, termasuk:

  1. Pelacakan Kontak (Contact Tracing): Melacak semua orang yang pernah berinteraksi dengan kedua perawat tersebut selama masa inkubasi.
  2. Dekontaminasi Rumah Sakit: Melakukan sterilisasi menyeluruh di area-area tempat korban bertugas.
  3. Edukasi Publik: Memperingatkan warga untuk tidak mengonsumsi buah-buahan yang tampak bekas gigitan hewan atau meminum nira pohon yang mungkin terkontaminasi.

Kematian perawat muda ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan lembaga kesehatan di seluruh dunia untuk terus memperkuat sistem deteksi dini dan perlindungan bagi tenaga medis. Dedikasinya dalam merawat pasien hingga harus mengorbankan nyawa sendiri akan selalu dikenang sebagai bukti pengabdian tertinggi dalam profesi keperawatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *