Teheran – Dunia hari ini terbangun dengan peta geopolitik yang koyak. Konfirmasi kematian Ali Khamenei dalam operasi militer “habis-habisan” oleh AS dan Israel bukan hanya sebuah peristiwa militer, melainkan guncangan sosiopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi 1979. Di jalanan Teheran, suasana dilaporkan sangat kontradiktif; antara duka mendalam yang disiarkan televisi pemerintah dan laporan adanya perayaan sporadis di beberapa sudut kota.
1. Ilusi “Titik Akhir” Konflik
Banyak pihak di Barat—termasuk Presiden Donald Trump yang mengklaim kematian ini sebagai peluang rakyat Iran untuk “mengambil kembali negaranya”—beranggapan bahwa jatuhnya sang diktator teokratis akan otomatis menghentikan konflik. Namun, realitasnya jauh lebih kompleks.
Sistem politik Iran tidak dibangun sebagai “pertunjukan satu orang” layaknya Irak era Saddam Hussein. Iran beroperasi di bawah doktrin Wilayat al-Faqih, sebuah struktur kekuasaan yang melembaga di mana otoritas tertinggi berada pada sistem ulama dan militer yang saling mengunci. Ada Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Dewan Penjaga, dan Majelis Ahli yang tetap utuh meski sang Rahbar tiada.
2. Suksesi dan Munculnya Faksi Paling Keras
Alih-alih melunak, hilangnya Khamenei melalui serangan asing justru berpotensi memicu radikalisasi. Dalam sejarah politik Iran, ancaman eksternal selalu menjadi perekat solidaritas nasional. Dengan tewasnya Khamenei sebagai “martir”, IRGC memiliki legitimasi penuh untuk mengambil kendali keamanan secara total dan melakukan pembersihan terhadap faksi moderat yang tersisa.
Majelis Ahli kini tengah bersiap memilih penerus. Nama-nama seperti Mojtaba Khamenei (putra mendiang) atau Alireza Arafi mencuat sebagai kandidat kuat. Siapa pun yang terpilih, kecil kemungkinan mereka akan memulai jabatan dengan berdamai pada “Zionis” atau “Setan Besar” (AS) yang baru saja membunuh pemimpin mereka.
Baca Juga
Tragedi “Hujan Uang” di El Alto: Jatuhnya Hercules Militer Bolivia
3. Risiko Geopolitik: Selat Hormuz dan Perang Regional
Dampak langsung dari peristiwa ini sudah terasa di pasar global. Segera setelah konfirmasi kematian tersebut, Iran dilaporkan telah menutup Selat Hormuz, jalur urat nadi minyak dunia. Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 120 dollar AS per barel dalam hitungan jam.
Secara militer, IRGC telah meluncurkan gelombang serangan balasan ke pangkalan AS di Timur Tengah dan fasilitas strategis di Israel. Ini menunjukkan bahwa “identitas perlawanan” Iran telah mengakar kuat di luar figur individu. Konflik ini bukan lagi soal Khamenei, melainkan soal kelangsungan hidup sebuah ideologi negara yang telah ditanamkan selama 47 tahun.
4. Iran Bukan Irak: Bedanya Struktur dan Ideologi
Membandingkan Iran dengan Irak pasca-Saddam adalah kekeliruan sosiologis. Di Irak, kekuasaan terpusat pada satu klan dan partai Ba’ath yang rapuh tanpa Saddam. Di Iran, ideologi anti-imperialis telah menjadi “napas” pendidikan, media, dan struktur sosial. Bahkan warga yang membenci rezim sekalipun seringkali memiliki sentimen nasionalisme yang kuat melawan intervensi militer asing.
Kematian Khamenei mungkin mengakhiri sebuah era personal, namun tidak menghapus infrastruktur militer dan jaringan proksi Iran di Lebanon (Hezbollah), Suriah, dan Yaman (Houthi).
Kematian Ali Khamenei adalah momentum transisi paling berbahaya dalam sejarah modern Iran. Tanpa figur penyeimbang yang karismatik di puncak, Iran bisa terjebak dalam perang saudara antara kelompok pro-perubahan dan loyalis IRGC, atau justru bersatu dalam radikalisme militer yang lebih agresif.
Membayangkan damai akan datang hanya dengan satu ledakan di Teheran adalah sebuah kenaifan politik. Dunia kini harus bersiap menghadapi Timur Tengah yang jauh lebih tidak stabil, di mana api revolusi mungkin membakar lebih besar sebelum akhirnya meredup.
