Dunia internasional tengah menyaksikan sebuah pergeseran geopolitik yang dramatis di awal tahun 2026. Ketegangan yang membara di Timur Tengah sejak akhir Februari lalu kini memicu percikan keretakan di internal aliansi Barat. Di tengah kebuntuan militer dan tertutupnya Selat Hormuz akibat konflik terbuka antara koalisi AS-Israel melawan Iran, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melayangkan permintaan bantuan kepada sekutu Eropa untuk mengerahkan kekuatan angkatan laut mereka.
Namun, alih-alih mendapatkan dukungan solidaritas, Trump justru membentur tembok penolakan yang keras. Sejumlah raksasa Eropa, dipimpin oleh Jerman dan Inggris, secara terang-terangan menyatakan tidak akan mengirimkan kapal perang ke jalur pelayaran paling krusial di dunia tersebut. Sikap ini menandakan sebuah pesan kuat: Eropa tidak ingin terseret dalam “perang orang lain” yang bisa memicu kiamat ekonomi dan militer yang lebih luas.
Jerman: “Ini Bukan Perang Kami”
Berlin menjadi pihak yang paling vokal dalam menyuarakan keberatan. Di tengah tekanan Washington, Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, mengeluarkan pernyataan menohok yang menggambarkan keengganan negaranya untuk terlibat dalam eskalasi senjata.
“Ini bukan perang kita. Kita tidak memulainya,” tegas Pistorius. Ia bahkan mempertanyakan logika militer di balik permintaan Trump tersebut. “Apa yang diharapkan Trump dari satu atau dua fregat Eropa di Selat Hormuz yang tidak bisa dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang begitu kuat?”
Sikap skeptis ini juga didukung oleh Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul. Sebelum pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels pada Senin (16/3/2026), Wadephul menegaskan bahwa Berlin tidak akan memberikan “cek kosong” kepada AS dan Israel. Jerman menuntut kejelasan mengenai tujuan akhir dari operasi militer di Selat Hormuz sebelum mempertimbangkan langkah apa pun. Bagi Jerman, diplomasi dan arsitektur keamanan regional bersama negara-negara tetangga adalah prioritas, bukan pengerahan meriam di laut.
Baca Juga
Horor di Langit Timur Tengah: Debut Rudal Sejjil dalam Prahara “True Promise 4”
Inggris: Menolak Misi NATO di Teluk
Kejutan lain datang dari seberang saluran Inggris. Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer, Inggris yang secara tradisional merupakan sekutu terdekat AS, kini mengambil jarak yang sangat lebar. Starmer menegaskan bahwa misi untuk membuka paksa Selat Hormuz bukan dan tidak akan pernah menjadi misi NATO.
“Izinkan saya memperjelas: itu tidak akan, dan tidak pernah direncanakan untuk menjadi, misi NATO,” ujar Starmer dari London. Inggris secara tegas menolak keterlibatan dalam perang yang lebih luas di Timur Tengah, sebuah sikap yang menunjukkan kehati-hatian luar biasa agar tidak terperosok kembali dalam konflik berkepanjangan seperti memori pahit di masa lalu.
Meskipun menolak mengirim kapal perang berat, Inggris tetap membuka celah kecil lewat diskusi mengenai opsi teknologi non-tempur, seperti penggunaan drone pemburu ranjau yang sudah siaga di wilayah tersebut. Namun, pesan utamanya tetap sama: Tidak ada pengerahan pasukan tempur baru.
Dampak Global: Arus Minyak yang Tersumbat
Penolakan Eropa ini terjadi di saat dunia sedang berada di ambang krisis energi terparah dalam sejarah modern. Sejak Selat Hormuz praktis tertutup pada 28 Februari 2026, arus distribusi minyak global terganggu secara masif.
Perlu diingat bahwa seperlima pasokan minyak dunia melewati selat sempit ini. Blokade yang terjadi akibat konflik AS-Israel vs Iran telah menyebabkan:
- Lonjakan Harga Energi: Harga minyak mentah dunia meroket, memberikan tekanan inflasi yang luar biasa pada negara-negara importir.
- Ketidakpastian Pasar: Investor global mulai melakukan aksi jual karena khawatir akan gangguan pasokan jangka panjang.
- Ancaman Resesi: Industri manufaktur di berbagai belahan dunia mulai merasakan dampak kenaikan biaya logistik dan bahan bakar.
| Negara | Sikap Terhadap Pengiriman Kapal Perang | Fokus Utama |
| Amerika Serikat | Pemrakarsa / Meminta Bantuan | Operasi Militer & Pembukaan Jalur |
| Jerman | Menolak Tegas | Diplomasi & Kejelasan Tujuan |
| Inggris | Menolak | Penggunaan Teknologi Drone & Hindari Perang |
| Prancis / Italia | Cenderung Menolak / Menunggu | Stabilitas Regional |
Analisis: Mengapa Eropa Menghindar?
Ada beberapa alasan strategis mengapa negara-negara Eropa kali ini berani berkata “tidak” kepada Donald Trump:
- Kedaulatan Strategis: Eropa semakin ingin menunjukkan kemandirian politik luar negeri mereka agar tidak selalu menjadi “bayang-bayang” kebijakan AS yang seringkali dianggap impulsif.
- Risiko Serangan Balik: Melibatkan diri secara militer melawan Iran di Selat Hormuz berisiko memicu serangan balik terhadap aset-aset Eropa, baik secara fisik maupun melalui serangan siber.
- Prioritas Keamanan Dalam Negeri: Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, pemerintah Eropa enggan mengalokasikan anggaran militer yang besar untuk konflik jarak jauh yang berisiko tinggi.
Penolakan Jerman dan Inggris terhadap permintaan Trump menciptakan babak baru dalam diplomasi internasional. Di satu sisi, AS dan Israel merasa perlu melakukan tindakan militer tegas untuk membuka kembali jalur energi dunia. Di sisi lain, Eropa lebih mempercayai jalur dialog dan penguatan keamanan regional bersama negara-negara Teluk.
Pertaruhan di Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar soal kapal perang dan rudal, melainkan soal siapa yang paling mampu menahan diri agar krisis ini tidak meledak menjadi Perang Dunia ketiga. Bagi Eropa, kapal perang mungkin adalah solusi cepat, tetapi perdamaian jangka panjang hanya bisa dicapai melalui meja perundingan.
