WASHINGTON D.C. – Di atas ketinggian ribuan kaki di dalam pesawat kepresidenan Air Force One, suasana tegang menyelimuti sesi tanya jawab antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan para jurnalis pada Jumat malam (6/2/2026). Di tengah gemuruh mesin pesawat, satu pertanyaan menggema: “Apakah Anda akan meminta maaf atas video rasis terhadap Barack dan Michelle Obama?”
Jawaban Trump singkat, padat, dan tanpa kompromi: “Saya tidak membuat kesalahan.“
Pernyataan ini menjadi puncak dari drama politik 48 jam yang kembali menyeret isu rasial ke jantung pemerintahan AS. Video berdurasi 60 detik yang diunggah di akun Truth Social milik Trump pada Kamis malam bukan sekadar unggahan biasa; itu adalah pemicu ledakan opini publik yang membuat kawan dan lawan politiknya terperangah.
Satu Detik yang Menghancurkan Narasi
Video tersebut awalnya tampak seperti konten kampanye biasa yang menyuarakan teori konspirasi mengenai kegagalan Trump dalam Pilpres 2020. Konten tersebut mengulangi tuduhan lama terhadap Dominion Voting Systems, yang kini telah berganti nama menjadi Liberty Vote setelah akuisisi tahun lalu, meski klaim tersebut telah berulang kali dibantah secara hukum.
Namun, kejutan sesungguhnya muncul di bagian akhir. Selama sekitar satu detik, wajah mantan Presiden Barack Obama dan istrinya, Michelle Obama, ditampilkan secara digital di atas tubuh monyet yang sedang menari di hutan. Penggambaran ini bukan hanya ofensif secara personal, tetapi juga menghidupkan kembali kiasan rasis berabad-abad yang digunakan untuk mendehumanisasi warga kulit hitam di Amerika.
Karoline Leavitt dan Strategi “Kemarahan Palsu”
Respon awal dari Gedung Putih justru menambah bensin ke dalam api. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang merupakan wajah milenial di podium kepresidenan, awalnya menepis kecaman publik dengan sebutan “amarah palsu” (fake outrage).
“Tolong hentikan kemarahan palsu ini. Video itu adalah meme internet yang menggambarkan Presiden Trump sebagai Raja Hutan dan Demokrat sebagai karakter dari The Lion King,” ujar Leavitt dalam pernyataan resminya.
Namun, narasi “Lion King” ini segera runtuh saat kritik datang bukan hanya dari faksi Demokrat seperti Gubernur California Gavin Newsom, tetapi juga dari sekutu dekat Trump. Senator Tim Scott, salah satu politisi kulit hitam paling berpengaruh di Partai Republik, menyebut video tersebut sebagai “hal paling rasis yang pernah ia lihat keluar dari Gedung Putih.”

Pergeseran Alibi: “Kesalahan Staf” atau Keputusan Presiden?
Sekitar 12 jam setelah video tersebut viral, arah angin di Gedung Putih berubah. Video tersebut dihapus, dan seorang pejabat tinggi menyatakan bahwa unggahan itu adalah “kesalahan teknis dari seorang staf.”
Namun, di Air Force One, Trump justru memberikan pernyataan yang kontradiktif dengan pembelaan stafnya. Ia mengaku memerintahkan ajudannya untuk mengunggah video tersebut setelah hanya melihat bagian awalnya yang membahas dugaan kecurangan pemilu.
“Saya hanya melihat bagian pertamanya. Bagian itu tentang penipuan pemilih melalui mesin-mesin yang korup. Saya menyukainya, lalu saya berikan kepada orang-orang (staf) untuk diunggah,” jelas Trump kepada wartawan. Meski mengaku mengecam penggambaran rasial saat ditanya lebih lanjut, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak meminta maaf secara formal kepada keluarga Obama.
Baca Juga
Misteri Little St. James: Dari ‘Pulau Dosa’ Jeffrey Epstein Menjadi Resort Mewah
Dampak di Panggung Politik 2026
Kontroversi ini terjadi di saat yang sangat sensitif. Tahun 2026 merupakan tahun politik penting di AS, di mana kendali atas Kongres dipertaruhkan dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections). Para analis politik menilai bahwa insiden ini bisa menjadi bumerang bagi Partai Republik yang sedang berupaya menarik pemilih moderat dan minoritas.
Bagi pendukung setianya, sikap keras Trump dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap “budaya sensor” atau cancel culture. Namun, bagi para kritikus, ini adalah konfirmasi dari retorika memecah belah yang selama ini menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Kasus ini juga menyoroti kembali prosedur penggunaan media sosial oleh seorang presiden. Di platform Truth Social miliknya, Trump memiliki hampir 12 juta pengikut, di mana setiap unggahannya mampu mempengaruhi opini publik dalam hitungan detik. Kegagalan tim komunikasi untuk meninjau konten hingga detik terakhir menunjukkan adanya celah besar dalam manajemen krisis di sayap barat Gedung Putih.
Kesimpulan: Luka Lama yang Terbuka Kembali
Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump pada 2026 tampak masih bergelut dengan bayang-bayang masa lalu. Penolakan untuk meminta maaf atas kiasan rasis terhadap mantan kepala negara bukan hanya masalah etika, tetapi juga mencerminkan polarisasi yang semakin dalam.
Barack dan Michelle Obama sendiri hingga saat ini belum memberikan komentar resmi. Namun, di media sosial, dukungan terhadap mereka mengalir deras di bawah tagar yang menyerukan martabat dan penghormatan terhadap institusi kepresidenan.
