Dunia internasional sedang menyaksikan babak baru dalam hubungan antara Washington dan New Delhi. Setelah berbulan-bulan terlibat dalam ketegangan dagang yang sengit, India akhirnya melunak. Keputusan untuk mengganti pasokan minyak Rusia dengan minyak dari Venezuela muncul tepat sebulan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melipatgandakan tarif terhadap barang-barang India jika negara tersebut terus mendanai mesin perang Moskwa melalui pembelian minyak mentah.
Pada Sabtu (31/1/2026), Trump memberi sinyal kuat bahwa “kesepakatan besar” telah tercapai. “Kami sudah membuat kesepakatan itu, konsep dari kesepakatan tersebut sudah matang,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih. Pernyataan ini sekaligus menandai kembalinya Venezuela ke pasar energi India setelah sempat terhenti total akibat sanksi AS tahun lalu.
Tekanan Tarif: Senjata Donald Trump yang Berhasil
Kepatuhan India terhadap keinginan AS tidak datang secara gratis. Sebelumnya, Trump telah menjatuhkan tarif sebesar 50 persen terhadap produk-produk India. Ancaman kenaikan tarif yang lebih tinggi lagi di awal 2026 tampaknya menjadi “pukulan telak” yang memaksa Perdana Menteri Narendra Modi untuk menghitung ulang strategi energinya.
Awalnya, ada kekeliruan komunikasi di mana Trump mengeklaim kesepakatan ini untuk menghentikan pasokan dari Iran. Namun, faktanya India sudah berhenti membeli minyak Teheran sejak 2019. Target sebenarnya adalah Rusia. Sejak invasi ke Ukraina pada 2022, India telah menjadi pembeli utama minyak Rusia, memanfaatkan diskon besar-besaran yang ditawarkan Moskwa untuk menghindari sanksi Barat.
Kini, dengan terbukanya kembali keran minyak dari Venezuela, posisi Rusia sebagai pemasok utama India berada dalam ancaman serius. Jika India benar-benar memangkas impornya secara drastis, ini akan menjadi pukulan finansial yang melumpuhkan bagi Kremlin dalam membiayai operasi militer mereka di Ukraina.
Baca Juga
32 Nyawa Melayang di Tengah Bayang-Bayang ‘Dewan Perdamaian’ Trump
Hubungan New Delhi-Washington: Dari Ketegangan Menuju Rekonsiliasi?
Keterbukaan Trump untuk bernegosiasi menunjukkan kontras yang tajam dibandingkan beberapa bulan lalu ketika hubungan kedua negara berada di titik nadir. Sinyal positif juga datang dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang mengisyaratkan bahwa jika India patuh pada peta jalan energi yang diinginkan Washington, tarif 50 persen tersebut kemungkinan besar akan dicabut.
Langkah ini dipandang sebagai upaya AS untuk kembali menarik India ke dalam lingkaran pengaruhnya, sekaligus melemahkan aliansi energi antara New Delhi dan Moskwa yang selama ini sangat kuat.
Dilema China dan Nasib Ekonomi Rusia
Tidak hanya India, Trump juga melemparkan “umpan” yang sama kepada China. Ia menyatakan bahwa Beijing dipersilakan untuk ikut serta dalam skema pembelian minyak Venezuela ini. “China dipersilakan untuk ikut serta dan akan mendapatkan kesepakatan minyak yang hebat,” tambah Trump dengan nada percaya diri.
Statistik dari Center for Research on Energy and Clean Air menunjukkan betapa krusialnya peran India dan China bagi Rusia. Sebelum ancaman tarif Trump meledak pada Agustus lalu, kedua raksasa Asia ini menyumbang sekitar 85 persen dari total ekspor minyak Rusia. Jika Trump berhasil mengalihkan kedua negara ini ke Venezuela, Rusia akan kehilangan pasar terbesarnya hampir secara instan.
Mengapa Venezuela?
Bagi India, minyak Venezuela sebenarnya bukan barang baru. Kilang-kilang minyak di India, seperti milik Reliance Industries, dirancang khusus untuk mengolah minyak mentah jenis berat (heavy crude) yang banyak dihasilkan oleh Venezuela. Pengalihan dari minyak Rusia ke Venezuela secara teknis tidak akan menemui hambatan berarti, selama sanksi AS tidak lagi membayangi transaksi tersebut.
Bagi Venezuela sendiri, ini adalah kesempatan emas untuk membangkitkan kembali ekonomi mereka yang sempat hancur. Dengan perlindungan dan restu dari Gedung Putih, Caracas diprediksi akan kembali menjadi pemain kunci di pasar energi global tahun ini.
Kesimpulan dan Dampak Global
Pergeseran ini menandai berakhirnya era “minyak diskon Rusia” bagi India. Meskipun India harus merelakan harga murah dari Moskwa, penghapusan tarif dagang dari AS dianggap sebagai keuntungan jangka panjang yang lebih besar bagi ekonomi domestik mereka.
Di sisi lain, Rusia kini menghadapi krisis ekonomi yang lebih nyata. Tanpa aliran dana dari New Delhi, kemampuan Putin untuk mempertahankan perang di Ukraina akan menghadapi tantangan logistik yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak 2022.
Dampak Utama Pergeseran Energi 2026:
- Bagi India: Penghapusan potensi tarif AS dan stabilisasi hubungan diplomatik dengan Barat.
- Bagi Rusia: Penurunan tajam pendapatan negara yang dapat mempercepat berakhirnya konflik di Ukraina.
- Bagi Venezuela: Kebangkitan industri minyak nasional dan reintegrasi ke ekonomi dunia.
- Bagi AS: Penegasan kembali supremasi Dolar dan kendali atas pasar komoditas global.
Dunia kini menanti, apakah China akan menyusul jejak India dalam meninggalkan Rusia? Jika ya, maka peta energi dunia benar-benar telah berubah secara permanen di tangan kebijakan “America First” jilid kedua.
