
Aliran dana asing kembali menunjukkan sinyal positif terhadap pasar modal Indonesia, terutama pada saham-saham berbasis komoditas. Dalam periode 25–27 Maret 2026, investor global tercatat melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) pada sejumlah emiten energi, pertambangan, hingga konglomerasi besar. Fenomena ini menjadi menarik karena terjadi di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global.
Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menjadi incaran utama investor asing dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp 530,4 miliar. Angka ini menempatkan AADI sebagai saham paling diminati dalam periode tersebut, mencerminkan optimisme terhadap sektor energi, khususnya batu bara.
Di posisi berikutnya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat net buy sebesar Rp 205,4 miliar. Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) yang dikenal sebagai perusahaan konglomerasi juga menarik minat investor asing dengan nilai Rp 162,7 miliar. Tidak ketinggalan, PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO) ikut mencuri perhatian dengan pembelian bersih sebesar Rp 150 miliar.
Selain itu, sejumlah emiten energi lain seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga mencatatkan aliran dana masuk yang cukup besar. Hal ini menegaskan bahwa sektor komoditas, terutama energi dan pertambangan, masih menjadi primadona di tengah dinamika global.
Menariknya, tren masuknya dana asing ini terjadi saat IHSG justru mengalami koreksi tipis sebesar 0,14 persen pada pekan lalu. Perdagangan yang hanya berlangsung tiga hari akibat libur panjang tidak mampu mengangkat indeks secara signifikan. Bahkan, secara keseluruhan, investor asing masih mencatatkan arus keluar (outflow) mencapai Rp 3,8 triliun.
Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika yang kompleks. Di satu sisi, investor asing masih melakukan aksi jual secara agregat. Namun di sisi lain, mereka tetap selektif dengan mengakumulasi saham-saham tertentu yang dinilai memiliki prospek cerah, terutama yang terkait dengan komoditas global.
Faktor utama yang mendorong minat terhadap sektor ini adalah meningkatnya harga energi dunia. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama. Konflik yang belum menemukan titik terang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, khususnya di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus level 100 dolar AS per barel. Kenaikan ini memberikan efek domino terhadap komoditas lain, termasuk batu bara. Harga batu bara bahkan tercatat menembus level 140 dolar AS per ton, menjadikannya salah satu komoditas dengan performa terbaik dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut analis dari PT Indo Premier Sekuritas, lonjakan harga ini juga dipengaruhi oleh pergeseran pola konsumsi energi global. Negara-negara seperti Jepang mulai meningkatkan penggunaan batu bara sebagai alternatif energi yang lebih stabil di tengah ketidakpastian pasokan minyak dan gas.
Tidak hanya sektor energi, komoditas agrikultur juga turut mendapat sentimen positif. Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia bertahan di level tinggi, didukung oleh peningkatan ekspor dan meningkatnya permintaan biofuel. Di Indonesia, kebijakan percepatan program biodiesel B50 menjadi katalis tambahan yang memperkuat prospek sektor ini.
Meski demikian, pasar tetap mencermati sejumlah risiko. Potensi penurunan permintaan dari India serta perlambatan ekonomi di China dapat menjadi faktor penghambat bagi kenaikan harga komoditas dalam jangka menengah. Oleh karena itu, investor cenderung bersikap selektif dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Di sisi domestik, dampak dari dinamika global ini juga terasa pada nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan. Kondisi ini sempat memicu aksi ambil untung oleh investor asing. Namun di sisi lain, pelemahan rupiah justru memberikan keuntungan bagi perusahaan berbasis ekspor karena meningkatkan daya saing di pasar internasional.
Pergerakan pasar saham Indonesia saat ini dapat dikatakan berada dalam fase “wait and see”. Investor menunggu kejelasan arah dari berbagai faktor eksternal, terutama perkembangan konflik geopolitik dan stabilitas harga energi global. Selama ketidakpastian ini masih berlangsung, volatilitas pasar diperkirakan akan tetap tinggi.
Secara teknikal, IHSG diproyeksikan bergerak dalam rentang terbatas atau sideways. Pada awal perdagangan pekan ini, indeks bahkan sempat melemah hingga turun 0,68 persen sebelum perlahan memangkas kerugian. Tekanan jual masih cukup dominan, terlihat dari jumlah saham yang melemah lebih banyak dibandingkan yang menguat.
Aktivitas perdagangan sendiri tergolong ramai dengan volume transaksi mencapai miliaran saham dan nilai transaksi triliunan rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pasar bergejolak, minat investor tetap tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Ke depan, peluang masih terbuka bagi sektor-sektor yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas, seperti energi, pertambangan, dan agrikultur. Namun, risiko global tetap menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.
Bagi investor, kondisi ini menuntut strategi yang lebih adaptif dan berbasis analisis yang matang. Diversifikasi portofolio serta pemantauan terhadap perkembangan global menjadi kunci dalam menghadapi pasar yang dinamis seperti saat ini.
Sebagai catatan, setiap keputusan investasi tetap berada di tangan masing-masing investor. Penting untuk melakukan riset secara menyeluruh sebelum mengambil langkah, agar dapat meminimalkan risiko dan memaksimalkan potensi keuntungan di tengah ketidakpastian pasar.
