BRUSSELS – Wilayah Utara Jauh yang biasanya membeku kini memanas dalam arti yang sebenarnya. Bukan karena perubahan iklim semata, melainkan akibat badai geopolitik yang dipicu oleh ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pada Senin (12/1/2026), Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte secara resmi menyatakan bahwa aliansi pertahanan Atlantik Utara tersebut sedang berpacu dengan waktu untuk merumuskan strategi baru guna memperkuat keamanan di wilayah Arktik.

Pernyataan Rutte ini muncul sebagai respons langsung terhadap guncangan diplomatik yang ditimbulkan oleh Washington. Donald Trump, dalam periode keduanya, kembali menegaskan ambisi kontroversialnya untuk menguasai Greenland—wilayah otonom di bawah kedaulatan Denmark—bahkan dengan menolak untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan militer.

Strategi Pertahanan atau Ekspansi Teritorial?

“Kami saat ini sedang mengupayakan langkah-langkah konkret untuk memastikan bahwa seluruh anggota aliansi benar-benar bersatu dalam melindungi apa yang dipertaruhkan di sana,” ujar Mark Rutte dalam konferensi pers di Brussels, sebagaimana dikutip dari AFP.

Alasan utama di balik obsesi Trump terhadap pulau terbesar di dunia tersebut adalah keamanan nasional. Trump berargumen bahwa Greenland merupakan kunci strategis untuk membendung pengaruh Rusia dan China di Kutub Utara. Seiring mencairnya es di kutub, jalur pelayaran baru mulai terbuka, memberikan akses ekonomi dan militer yang belum pernah ada sebelumnya.

“Semua sekutu sepakat tentang pentingnya Arktik. Dengan terbukanya jalur laut, ada risiko nyata bahwa Rusia dan China akan jauh lebih agresif,” tambah Rutte. Namun, metode Trump yang bersifat transaksional dan mengancam telah menciptakan keretakan internal yang dalam di tubuh NATO.

“Dua Kereta Luncur Anjing”: Sindiran Tajam Trump

Trump tidak menahan diri dalam mengkritik kemampuan pertahanan Denmark dan Greenland saat ini. Lewat pernyataan yang mencolok, ia mengejek kekuatan lokal di wilayah tersebut. “Pertahanan mereka hanya dua kereta luncur anjing, sementara Rusia dan China memiliki kapal perusak dan kapal selam di mana-mana,” cetusnya.

Bagi Trump, memiliki Greenland bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis. Ia mengklaim bahwa dirinya adalah sosok yang “menyelamatkan NATO” dengan memaksa negara-negara Eropa untuk meningkatkan belanja pertahanan mereka. Namun, bagi para pemimpin Eropa, ancaman penggunaan kekuatan militer terhadap sesama anggota aliansi adalah sesuatu yang tak terpikirkan.

Baca Juga

Ambisi Terbesar Abad Ini: Donald Trump, Greenland, dan Ketegangan di Arktik

Denmark Melawan: Ultimatum Mette Frederiksen

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, memberikan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa jika Washington benar-benar meluncurkan serangan atau upaya aneksasi bersenjata terhadap Greenland, hal itu akan menjadi lonceng kematian bagi NATO. Dukungan penuh mengalir dari seluruh pemimpin Eropa untuk Kopenhagen, menciptakan tembok diplomatik yang kokoh di hadapan keinginan Trump.

Minggu ini dijadwalkan menjadi momen krusial. Menteri Luar Negeri Denmark dan perwakilan dari Greenland akan mengadakan pembicaraan tingkat tinggi dengan Diplomat Utama AS, Marco Rubio. Pertemuan ini diharapkan mampu meredakan ketegangan, meskipun banyak pihak skeptis mengingat sikap keras kepala Trump yang menganggap Greenland harus “membuat kesepakatan” agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Misi Baru NATO di Ujung Utara

Di balik pintu tertutup di markas besar NATO, para diplomat mulai mendiskusikan ide-ide radikal untuk meredam tensi sekaligus memperkuat wilayah tersebut. Salah satu usulan yang muncul adalah peluncuran misi militer permanen baru khusus untuk wilayah Arktik.

Misi ini bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan tanpa harus mengubah status kedaulatan Greenland. Namun, diskusi ini masih berada di tahap embrio. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan “payung keamanan” yang cukup kuat untuk memuaskan tuntutan keamanan AS, namun tetap menghormati integritas teritorial Denmark.

Konsekuensi Geopolitik Global

Jika krisis ini tidak ditangani dengan hati-hati, dampaknya akan meluas jauh melampaui es Arktik:

  1. Keretakan Transatlantik: Hubungan AS dengan sekutu tradisionalnya di Eropa berada di titik terendah sejak Perang Dunia II.
  2. Peluang bagi Rival: Ketidakharmonisan internal NATO memberikan celah bagi Rusia dan China untuk semakin memperluas jejak kaki mereka di wilayah Arktik yang kaya sumber daya alam.
  3. Hukum Internasional di Persimpangan Jalan: Tindakan sepihak dari negara adidaya terhadap wilayah otonom akan menciptakan preseden buruk bagi kedaulatan negara-negara kecil di seluruh dunia.

Greenland kini bukan lagi sekadar pulau es yang tenang; ia telah menjadi pusat dari papan catur baru dalam politik kekuatan dunia. Akankah diplomasi mampu mencairkan ketegangan ini, ataukah ambisi “America First” milik Trump akan benar-benar membekukan masa depan aliansi NATO?

Satu hal yang pasti, mata dunia kini tertuju pada pertemuan Rubio dengan perwakilan Denmark minggu ini. Hasilnya akan menentukan apakah Arktik akan tetap menjadi zona perdamaian atau menjadi medan tempur baru dalam sejarah modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *