Rencana FIFA meningkatkan hadiah uang di Piala Dunia FIFA 2026 menjadi bukti bahwa turnamen sepak bola terbesar di dunia itu kini menghadapi tantangan baru yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis di lapangan, tetapi juga persoalan finansial di balik layar. Dengan format baru yang melibatkan 48 tim dan digelar di tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—biaya operasional bagi peserta meningkat signifikan dibandingkan edisi sebelumnya di Qatar.
Kekhawatiran ini terutama datang dari asosiasi sepak bola di Eropa yang merasa bahwa peningkatan hadiah yang telah diumumkan sebelumnya masih belum cukup untuk menutup pengeluaran selama turnamen. Biaya perjalanan lintas kota yang sangat jauh, akomodasi di negara dengan biaya hidup tinggi, serta ketidakpastian pajak menjadi faktor utama yang memicu kekhawatiran tersebut. Berbeda dengan Qatar yang relatif terpusat, Piala Dunia 2026 akan tersebar di berbagai kota dengan jarak yang bisa mencapai ribuan kilometer.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
Menanggapi tekanan tersebut, FIFA membuka dialog dengan berbagai federasi dan mulai mempertimbangkan peningkatan total hadiah serta kontribusi finansial lainnya. Langkah ini menunjukkan bahwa organisasi tersebut tidak ingin turnamen prestisiusnya justru membebani peserta secara ekonomi. Dalam beberapa pernyataan resmi, FIFA menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa seluruh tim, baik besar maupun kecil, dapat berpartisipasi tanpa mengalami tekanan finansial berlebihan.
Sebelumnya, total hadiah untuk Piala Dunia 2026 ditetapkan sebesar 727 juta dolar AS, dengan juara mendapatkan sekitar 50 juta dolar AS. Angka ini memang merupakan rekor baru dalam sejarah turnamen, namun tetap dinilai belum memadai. Kini, setelah mendapat masukan dari berbagai pihak termasuk UEFA, FIFA menyetujui peningkatan anggaran hingga sekitar 871 juta dolar AS—kenaikan sekitar 15 persen dari rencana awal.
Dengan kebijakan baru ini, setiap negara peserta dijamin memperoleh minimal 12,5 juta dolar AS hanya untuk berpartisipasi. Jumlah tersebut meningkat dari edisi sebelumnya dan diharapkan dapat membantu menutup sebagian biaya operasional. Selain itu, FIFA juga menambah subsidi untuk delegasi serta memperluas alokasi tiket bagi masing-masing federasi.
Namun, menariknya, FIFA memilih untuk mendistribusikan tambahan dana ini secara merata kepada seluruh peserta, bukan berdasarkan prestasi di lapangan. Keputusan ini sempat menuai kritik dari beberapa federasi besar yang menginginkan sistem berbasis kinerja. Bagi mereka, tim yang melaju lebih jauh seharusnya mendapatkan kompensasi lebih besar karena biaya yang mereka keluarkan juga meningkat seiring bertambahnya durasi partisipasi.
Federasi seperti The Football Association, French Football Federation, dan German Football Association bahkan diperkirakan tetap akan mengalami kerugian meskipun berhasil melaju ke fase akhir turnamen. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya tambahan seperti bonus pemain, logistik tim, serta jumlah staf yang biasanya jauh lebih besar dibandingkan batas subsidi dari FIFA.
FIFA sendiri hanya menanggung biaya harian untuk maksimal 50 orang dalam satu delegasi, termasuk 26 pemain. Sementara itu, tim-tim besar sering membawa staf tambahan seperti analis performa, tim medis khusus, hingga pendukung teknis lainnya yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh organisasi tersebut. Akibatnya, semakin sukses sebuah tim di turnamen, semakin besar pula potensi pengeluarannya.
Di sisi lain, tuan rumah seperti Amerika Serikat justru memiliki peluang untuk menyeimbangkan bahkan memperoleh keuntungan melalui skema berbagi pendapatan tiket. Federasi Sepak Bola Amerika Serikat diperkirakan bisa mendapatkan pemasukan signifikan dari penjualan tiket, yang juga dinikmati oleh Kanada dan Meksiko. Keuntungan semacam ini tidak dimiliki oleh negara peserta lainnya, sehingga menciptakan kesenjangan dalam aspek finansial.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5345651/original/079138900_1757569301-6.jpg)
Meski begitu, tidak semua pihak melihat situasi ini secara negatif. Beberapa federasi berukuran menengah menilai bahwa peningkatan dana dari FIFA sudah cukup membantu. Mereka menganggap bahwa jika ada negara yang tetap mengalami kerugian, hal tersebut lebih disebabkan oleh keputusan internal masing-masing dalam mengelola anggaran.
Selain peningkatan hadiah bagi peserta, FIFA juga memperluas program dukungan global melalui skema pengembangan untuk 211 asosiasi anggotanya. Program ini menjadi bagian dari visi jangka panjang FIFA untuk memperkuat fondasi sepak bola di seluruh dunia, tidak hanya di negara-negara besar tetapi juga di kawasan berkembang.
Langkah ini penting, terutama dengan format baru Piala Dunia yang lebih inklusif. Dengan 48 tim yang berpartisipasi, peluang bagi negara-negara non-tradisional untuk tampil di panggung dunia semakin besar. Oleh karena itu, dukungan finansial yang merata menjadi kunci agar kompetisi tetap kompetitif dan tidak didominasi oleh negara-negara dengan sumber daya besar.
Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang siapa yang akan mengangkat trofi, tetapi juga tentang bagaimana turnamen ini dikelola secara berkelanjutan. FIFA berada dalam posisi yang cukup kuat secara finansial untuk melakukan penyesuaian, namun tetap harus menyeimbangkan antara kepentingan komersial dan kebutuhan peserta.
Keputusan final mengenai peningkatan hadiah ini akan menjadi salah satu momen penting dalam sejarah turnamen. Jika berhasil diterapkan dengan baik, kebijakan ini tidak hanya akan meredakan kekhawatiran federasi, tetapi juga memperkuat posisi Piala Dunia sebagai ajang yang tidak hanya prestisius, tetapi juga adil secara ekonomi bagi semua pesertanya.
