SINGAPURA – Kepercayaan pasien terhadap tenaga medis adalah fondasi utama dalam dunia kesehatan. Namun, fondasi itu runtuh seketika di Rumah Sakit Raffles, salah satu institusi medis ternama di Singapura. Seorang pasien wanita berusia 63 tahun harus kehilangan nyawanya setelah menjalani prosedur yang seharusnya menjadi jalan menuju kesembuhan. Kasus ini bukan sekadar tentang kegagalan prosedur, melainkan tentang bayang-bayang ketidakjujuran seorang ahli bedah papan atas.
Ahli bedah urologi yang menjadi sorotan tajam adalah Dr. Fong Yan Kit. Namanya kini mencuat dalam laporan investigasi koroner setelah sebuah kesalahan fatal terjadi di meja operasi: ia salah memotong pembuluh darah vital yang mengakibatkan pendarahan hebat pada pasiennya.
Kronologi Maut di Ruang Operasi
Semua bermula ketika pasien wanita tersebut dijadwalkan untuk menjalani operasi pengangkatan ginjal (nefretomi) akibat adanya komplikasi medis yang cukup serius. Operasi yang dipimpin oleh Dr. Fong awalnya berjalan sesuai rencana. Namun, di tengah prosedur yang rumit tersebut, terjadi kekeliruan identifikasi anatomi yang fatal.
Dr. Fong, yang seharusnya memotong pembuluh darah kecil yang menyuplai ginjal, justru memotong arteri mesenterika superior—pembuluh darah utama yang memasok oksigen dan nutrisi ke usus. Kesalahan ini menyebabkan pasokan darah ke organ-organ vital di perut terputus seketika, memicu pendarahan masif dan kegagalan fungsi organ.
Meskipun upaya penyelamatan dilakukan setelah kesalahan disadari, kondisi pasien sudah terlalu kritis. Pasien malang tersebut dinyatakan meninggal dunia tak lama setelah prosedur berakhir, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan tanda tanya besar bagi otoritas medis Singapura.

Kecaman Keras Koroner: Bukan Sekadar “Human Error”
Kematian dalam dunia medis memang bisa terjadi, namun yang membuat kasus ini memicu kemarahan publik adalah perilaku Dr. Fong pasca-kejadian. Koroner Negara Bagian, Adam Nakhoda, mengeluarkan pernyataan yang sangat keras dalam laporan temuannya.
Baca Juga
Donald Trump, Video Rasis, dan Penolakan Meminta Maaf yang Membelah Amerika
Koroner menyoroti bahwa Dr. Fong tidak hanya melakukan kesalahan teknis, tetapi juga menunjukkan sikap yang tidak jujur dan tidak kooperatif selama proses penyelidikan. Dalam keterangannya, Dr. Fong diduga mencoba menutupi fakta mengenai kapan tepatnya pembuluh darah tersebut terpotong dan bagaimana respons medis yang ia berikan saat itu.
“Integritas seorang dokter diuji bukan hanya saat keberhasilan, tapi terutama saat terjadi kesalahan. Ketidakterbukaan dalam penyelidikan ini adalah penghinaan terhadap keadilan bagi korban,” tulis laporan koroner tersebut.
Ketidakjujuran yang Terstruktur
Dalam proses persidangan dan investigasi, ditemukan bahwa ada ketidaksesuaian antara catatan medis resmi dengan kesaksian yang diberikan oleh staf ruang operasi lainnya. Dr. Fong dituduh memberikan informasi yang menyesatkan mengenai durasi operasi dan kondisi stabil pasien sebelum insiden terjadi.
Sikap tidak kooperatif ini dianggap memperlambat proses pencarian kebenaran. Bagi keluarga korban, hal ini bukan lagi sekadar malapraktik, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap sumpah dokter. Otoritas kesehatan Singapura kini tengah mempertimbangkan sanksi berat, mulai dari pencabutan izin praktik hingga tuntutan pidana atas kelalaian yang menyebabkan kematian.
Dampak pada Reputasi Medis Singapura
Singapura selama ini dikenal sebagai pusat medical tourism di Asia Tenggara karena standar keamanannya yang tinggi. Namun, kasus di RS Raffles ini menjadi noda hitam yang cukup besar. Masyarakat kini mulai mempertanyakan sistem pengawasan terhadap dokter-dokter senior yang mungkin merasa “tak tersentuh” oleh regulasi.
Kritikus medis menyarankan agar rumah sakit di Singapura memperketat protokol “Time-Out” dan verifikasi anatomi berlapis, terutama pada operasi urologi dan vaskular yang memiliki risiko tinggi. Selain itu, transparansi dalam melaporkan insiden keselamatan pasien (adverse events) harus ditegakkan tanpa pandang bulu.
Pelajaran Berharga bagi Dunia Kedokteran
Kasus Dr. Fong Yan Kit memberikan pelajaran pahit bahwa keahlian teknis setinggi apa pun tidak akan berarti tanpa kejujuran intelektual. Ketika seorang dokter melakukan kesalahan, langkah pertama yang paling terhormat adalah mengakuinya dan bekerja sama untuk mencegah hal serupa terjadi di masa depan.
Hingga saat ini, proses hukum terhadap Dr. Fong masih terus bergulir. Publik menanti keadilan bagi mendiang pasien 63 tahun tersebut, sekaligus berharap agar standar etika medis di Singapura kembali ke jalur yang benar.
