ST. THOMAS, KEPULAUAN VIRGIN – Dunia kembali diguncang oleh gelombang informasi baru dari salah satu skandal paling kelam dalam sejarah modern. Menyusul rilis masif tiga juta lembar dokumen rahasia oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DoJ) pada akhir Januari 2026, perhatian publik global kembali terkunci pada sebuah titik kecil di peta Karibia: Pulau Little St. James.
Pulau pribadi yang pernah menjadi pusat jejaring perdagangan seks internasional yang melibatkan elit global ini kini sedang berada di persimpangan jalan antara masa lalu yang mengerikan dan masa depan yang sangat ambisius.
Dokumen Baru: Membuka Luka Lama yang Belum Sembuh
Rilis dokumen setebal tiga juta halaman pada Jumat (30/1/2026) lalu telah memberikan detail yang jauh lebih mengerikan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok-tembok vila mewah di Little St. James. Dokumen tersebut mengungkap rincian logistik, manifes penerbangan, hingga catatan komunikasi yang selama ini tertimbun rapat.
Bagi para penyintas, dokumen ini adalah bentuk transparansi yang terlambat. Namun bagi dunia properti dan pariwisata, dokumen ini menjadi pengingat betapa beratnya beban moral yang dipikul oleh tanah seluas 72 hektare tersebut. Mantan Jaksa Agung Kepulauan Virgin AS, Denise George, dalam laporannya secara konsisten menyebut pulau ini sebagai “tempat persembunyian sempurna” bagi aktivitas kriminal Jeffrey Epstein karena lokasinya yang terisolasi namun sangat modern.
Runtuhnya Harga Sang ‘Pulau Terkutuk’
Setelah kematian Epstein di penjara Manhattan pada tahun 2019, Little St. James dan pulau tetangganya, Great St. James, berubah menjadi aset yang paling sulit dijual di dunia. Awalnya, pada Maret 2022, kedua pulau ini dipasarkan sebagai paket seharga 125 juta dollar AS.
Namun, stigma sebagai “Pulau Pedofil” terbukti menjadi penghalang yang terlalu besar bagi para investor. Harga terus merosot tajam seiring tidak adanya minat dari pembeli kelas kakap. Baru pada Mei 2023, sebuah terobosan terjadi ketika miliarder pengusaha keuangan, Stephen Deckoff, muncul sebagai pembeli.
Melalui perusahaannya, SD Investments, pendiri Black Diamond Capital Management ini berhasil meminang kedua pulau tersebut dengan harga 60 juta dollar AS. Angka ini merupakan diskon lebih dari 50 persen dari harga permintaan awal—sebuah bukti nyata bagaimana sejarah hitam dapat menghancurkan nilai properti paling eksklusif sekalipun.

Misi Transformasi: Menghapus Jejak Setan
Stephen Deckoff tidak hanya membeli tanah; ia membeli sebuah narasi yang rusak dan berupaya memperbaikinya. Deckoff berencana mengubah lokasi yang dulunya tertutup rapat bagi publik tersebut menjadi sebuah destinasi wisata kelas dunia yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dan memberikan kontribusi positif bagi ekonomi Kepulauan Virgin.
“Saya bertekad untuk memastikan bahwa keindahan alam Kepulauan Virgin dapat dinikmati kembali oleh dunia, dan bahwa masa depan tempat ini tidak akan lagi didefinisikan oleh masa lalunya,” ujar Deckoff dalam sebuah pernyataan strategis mengenai rencana pembangunannya.
Baca Juga
Little St. James sejatinya memiliki fasilitas yang menakjubkan bagi sebuah resort:
- Aksesibilitas: Dermaga pribadi kelas satu dan landasan helikopter fungsional.
- Akomodasi: Empat vila tamu yang mewah dan satu kediaman utama yang ikonik.
- Infrastruktur: Sistem penyaringan air berkapasitas tinggi dan pembangkit listrik mandiri.
Rencananya, kediaman pribadi Epstein yang sering disebut dalam dokumen DoJ sebagai lokasi kegiatan ilegal akan direnovasi total atau bahkan dihancurkan guna memutus hubungan visual dengan trauma masa lalu.
Kontroversi yang Belum Usai
Meskipun rencana Deckoff terlihat mulia di atas kertas, banyak pihak tetap skeptis. Para aktivis hak asasi manusia dan pendamping korban perdagangan manusia mempertanyakan apakah sebuah tempat dengan sejarah “pembuangan jiwa” seperti itu etis untuk dijadikan tempat bersenang-senang bagi wisatawan kelas atas.
Beberapa usulan muncul agar sebagian dari pulau tersebut dijadikan monumen peringatan bagi para korban perdagangan manusia, sebagai bentuk pengakuan atas penderitaan yang terjadi di sana selama puluhan tahun.
Masa Depan Karibia di Tahun 2026
Kini, per tahun 2026, proses perizinan untuk mengubah status penggunaan lahan dari hunian pribadi menjadi komersial-wisata sedang berlangsung ketat. Pemerintah Kepulauan Virgin AS sangat berhati-hati dalam memantau setiap langkah Deckoff, mengingat sensitivitas politik dan sosial yang sangat tinggi.
Bagi masyarakat lokal di St. Thomas yang hanya berjarak dua mil dari pulau tersebut, perubahan ini membawa harapan ganda: harapan akan lapangan pekerjaan baru, dan harapan bahwa stigma buruk yang melekat pada wilayah mereka akan perlahan memudar seiring dengan berdirinya hotel-hotel baru yang megah.
Little St. James kini sedang berada di tengah eksperimen sosial dan ekonomi yang besar. Bisakah kemewahan baru menghapus memori tentang kejahatan lama? Ataukah bayang-bayang Jeffrey Epstein akan selalu menghantui setiap sudut pasir putih di sana? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: dunia tidak akan pernah lagi memandang pulau ini dengan cara yang sama.
