Mimpi Buruk Nuklir

NEW YORK – Tepat pada tengah malam, 5 Februari 2026, dunia resmi memasuki sebuah era baru yang mencekam. Berakhirnya masa berlaku Traktat New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) antara Amerika Serikat dan Federasi Rusia menandai runtuhnya benteng pertahanan terakhir yang selama ini menahan ambisi nuklir dua kekuatan militer terbesar di bumi.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, tidak menyembunyikan kecemasannya. Dalam sebuah pernyataan yang sangat serius, ia menyebut momen ini sebagai “masa kelam” bagi stabilitas keamanan internasional. Tanpa adanya perjanjian pengganti, untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, tidak ada lagi batasan hukum yang mengikat jumlah hulu ledak nuklir strategis yang boleh dikerahkan oleh Washington maupun Moskwa.

Fajar Kelam: Mengapa New START Begitu Vital?

Ditandatangani di Praha pada 2010 dan mulai berlaku setahun kemudian, New START adalah instrumen yang membatasi kedua negara untuk hanya memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan. Perjanjian ini juga mengatur jumlah rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik kapal selam (SLBM), dan pesawat pengebom berat.

Lebih dari sekadar angka, New START menyediakan mekanisme inspeksi di tempat dan pertukaran data secara berkala. Inilah yang disebut Guterres sebagai “pagar pengaman”. Tanpa inspeksi, transparansi hilang. Tanpa transparansi, kecurigaan tumbuh subur. Dan dalam dunia senjata pemusnah massal, kecurigaan adalah sumbu yang bisa memicu bencana akibat salah kalkulasi.

Prahara di Balik Diplomasi yang Buntu

Berakhirnya traktat ini pada Februari 2026 bukan terjadi tanpa usaha. Sejauh September 2025, Presiden Vladimir Putin sempat melontarkan gagasan untuk memperpanjang batasan New START secara informal selama satu tahun guna memberi ruang bagi negosiasi baru. Namun, Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump—yang baru saja menandatangani RUU anggaran untuk mengakhiri shutdown pemerintah—mengambil sikap berbeda.

Pihak Amerika Serikat bersikeras bahwa setiap perjanjian baru di masa depan wajib melibatkan China. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa pengendalian senjata global tidak akan efektif jika Beijing tetap dibiarkan mengembangkan arsenal nuklirnya tanpa pengawasan internasional.

Di sisi lain, China menolak mentah-mentah tekanan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa skala kekuatan nuklir negaranya jauh di bawah AS dan Rusia, sehingga belum saatnya bagi mereka untuk masuk ke meja pelucutan senjata. Kebuntuan tripartit inilah yang akhirnya membiarkan lonceng kematian New START berbunyi tanpa ada pengganti di tangan.

Analisis: Risiko Perlombaan Senjata yang Tak Terkendali

Tanpa adanya batas yang bisa diverifikasi, para pakar militer memperingatkan potensi kembalinya perlombaan senjata gaya Perang Dingin.

  • Ketidakpastian Strategis: Tanpa inspeksi, kedua negara akan dipaksa melakukan “perencanaan skenario terburuk” (worst-case scenario planning). Jika AS menduga Rusia menambah hulu ledak, maka AS akan merasa harus menambah lebih banyak lagi, dan sebaliknya.
  • Kemajuan Teknologi: Munculnya senjata hipersonik dan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem kendali militer semakin memperumit situasi. Guterres secara khusus menyoroti bahwa teknologi baru ini berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan diplomasi untuk mengaturnya.
  • Dampak pada NPT: Runtuhnya New START juga mengancam fondasi Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Negara-negara non-nuklir akan merasa tidak ada gunanya menahan diri jika kekuatan nuklir dunia justru terus menambah cadangan senjata mereka.

Baca Juga

Target Bioetanol 10% Indonesia Mundur ke 2028

Titik Balik atau Titik Nadir?

Meskipun situasi tampak suram, António Guterres masih melihat adanya “celah diplomatik”. Ia mendesak kedua negara untuk tidak membiarkan kekosongan hukum ini berlangsung lama. Menurutnya, krisis ini seharusnya menjadi momentum untuk meriset ulang rezim pengendalian senjata yang lebih relevan dengan konteks abad ke-21.

“Dunia kini menanti Federasi Rusia dan Amerika Serikat untuk melaksanakan apa yang mereka ucapkan,” tegas Guterres. Ia menuntut tindakan nyata, bukan sekadar retorika tentang perdamaian, untuk segera kembali ke meja perundingan.

Statisitk Kekuatan Nuklir Dunia (Estimasi 2026)

NegaraEstimasi Hulu LedakStatus Perjanjian
Rusia~5.500+Tanpa Batasan (New START Berakhir)
Amerika Serikat~5.000+Tanpa Batasan (New START Berakhir)
China~600+ (Meningkat pesat)Tidak Terikat Perjanjian Internasional
Prancis & Inggris~500 (Gabungan)Terikat Kebijakan NATO

Kesimpulan: Menanti Langkah Washington dan Moskwa

Februari 2026 akan dicatat dalam buku sejarah sebagai momen ketika dunia kehilangan kendali atas senjata paling mematikan yang pernah diciptakan manusia. Kini, stabilitas global bergantung sepenuhnya pada kemauan politik di Washington dan Moskwa. Tanpa perjanjian tertulis, keamanan kita hanya bersandar pada satu hal yang sangat rapuh: asumsi.

Mampukah para pemimpin dunia menurunkan egonya sebelum perlombaan senjata ini mencapai titik yang tak bisa diputar balik?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *