SEPANG, MALAYSIA – Hari pertama tahun 2026 seharusnya menjadi lembaran baru yang penuh senyum bagi industri pariwisata Malaysia. Namun, di balik kemeriahan lampu warna-warni dan spanduk raksasa bertuliskan “Visit Malaysia 2026”, terselip keresahan mendalam dari sang pemangku kebijakan. Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya Malaysia, Tiong King Sing, melontarkan teguran keras namun penuh harapan: Malaysia tidak boleh hanya menjual keindahan alam, tetapi harus kembali menemukan “ruh” keramahannya yang mulai memudar.

Berbicara di gerbang utama negara, Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) pada Kamis (1/1/2026), Tiong mengungkapkan fakta pahit yang diterimanya langsung dari para pelancong mancanegara. Di tengah ambisi besar menarik puluhan juta turis asing tahun ini, justru muncul gelombang keluhan mengenai perlakuan “dingin” dan kurang bersahabat dari sebagian masyarakat dan petugas lapangan.

Fenomena “Wajah Jengkel” dan Tantangan Etika Publik

Tiong King Sing menceritakan bahwa ia secara khusus meminta klarifikasi dari berbagai instansi pemerintah setelah mendengar curhatan para turis. Masalahnya klise namun fatal: hilangnya sikap membantu saat wisatawan berada di ruang publik.

“Saya telah menerima keluhan dan meminta penjelasan dari instansi terkait. Laporan yang masuk menyebutkan bahwa ketika wisatawan asing membutuhkan arahan atau bantuan sederhana, ada oknum masyarakat yang bersikap tidak ramah, bahkan menunjukkan wajah jengkel,” ujar Tiong dengan nada prihatin.

Dalam industri hospitality, persepsi adalah segalanya. Satu wajah yang cemberut di bandara atau ketidaksediaan membantu di pusat kota bisa menghapus ribuan iklan promosi mahal di London atau New York. Tiong menekankan bahwa budaya lokal Malaysia yang dikenal hangat dan multikultural seharusnya menjadi “senjata utama” dalam menyambut tamu, bukan sekadar pelengkap administratif.

Hantu Semporna: Antara Keindahan Surga dan Julukan “Kota Terkotor”

Masalah Malaysia bukan hanya soal senyuman, tetapi juga soal sanitasi yang masih menjadi titik lemah. Tiong kembali menyentil isu kebersihan yang sempat mencoreng wajah pariwisata nasional pada akhir tahun lalu. Sebuah video viral dari seorang travel vlogger asal Inggris menjadi tamparan keras bagi otoritas setempat.

Dalam unggahan tersebut, wilayah Semporna—yang merupakan pintu masuk menuju surga bawah laut Sipadan dan Mabul—dijuluki sebagai “kota terkotor di Asia”. Rekaman yang memperlihatkan lautan sampah di sekitar dermaga dan sanitasi yang buruk di pemukiman apung memicu perdebatan panas di media sosial.

Baca Juga

“El Hombre Bala” Melewati Fase Kritis: Operasi Jantung Roberto Carlos

“Kebersihan lingkungan akan menentukan apakah turis akan kembali lagi atau justru memperingatkan orang lain untuk menjauh,” tegas Tiong. Bagi pemerintah Malaysia, tahun 2026 adalah pertaruhan besar. Jika masalah sampah di destinasi unggulan seperti Semporna tidak segera diatasi secara struktural, maka label “Truly Asia” akan sulit dipertahankan di tengah persaingan ketat dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.

Strategi Menuju Visit Malaysia 2026

Kampanye Visit Malaysia 2026 bukan sekadar proyek ambisius, melainkan mesin penggerak ekonomi yang vital. Untuk memastikan kesuksesannya, Tiong King Sing merumuskan beberapa langkah strategis yang harus segera dijalankan:

  1. Revolusi Mental Keramahan: Melibatkan penyedia jasa transportasi, petugas bandara, hingga pedagang kaki lima untuk diberikan pelatihan dasar mengenai standar pelayanan internasional.
  2. Audit Kebersihan Destinasi: Menekan otoritas lokal di wilayah pesisir seperti Sabah dan Sarawak untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah secara radikal.
  3. Digitalisasi Bantuan Turis: Memperbanyak titik informasi digital dan fisik di ruang publik untuk meminimalisir kebingungan wisatawan yang berujung pada konflik kecil dengan warga lokal.

Menyambut Tamu dengan Suvenir dan Senyuman

Sebagai bentuk komitmen langsung, Tiong King Sing turun ke lapangan di KLIA untuk menyambut penumpang internasional pertama di tahun 2026. Ia membagikan suvenir khas Malaysia sebagai simbol bahwa negara tersebut masih sangat menghargai kehadiran para tamu.

Namun, pembagian suvenir hanyalah simbolisme. Tantangan sesungguhnya ada pada jutaan interaksi harian antara turis dan warga Malaysia di pasar-pasar, stasiun kereta, dan trotoar. Tiong mengajak seluruh lapisan masyarakat—mulai dari sopir taksi hingga pengusaha hotel—untuk bekerja sama membuktikan bahwa Malaysia adalah bangsa yang hangat.

“Budaya kita harus mencerminkan sikap hangat terhadap wisatawan dari seluruh dunia. Ini adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya tugas kementerian,” pungkasnya.

Tahun 2026 baru saja dimulai. Malaysia berada di persimpangan jalan antara menjadi destinasi kelas dunia yang dicintai karena keramahannya, atau sekadar negara dengan pemandangan indah namun meninggalkan kesan buruk di hati pengunjung. Ketegasan Tiong King Sing dalam menanggapi keluhan turis menunjukkan bahwa pemerintah menyadari ada lubang besar yang harus ditambal sebelum arus wisatawan mencapai puncaknya di pertengahan tahun nanti.

Kini, bola panas ada di tangan masyarakat Malaysia. Mampukah mereka mengembalikan identitas sebagai bangsa yang ramah dan bersih, ataukah keluhan-keluhan kecil ini akan menjadi penghalang bagi kesuksesan Visit Malaysia 2026?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *