DUBAI – Menjelang pesta sepak bola terbesar di jagat raya, Piala Dunia 2026, sebuah isu panas mulai membayangi semarak persiapan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya angkat bicara di tengah gelombang kritik yang menghantam kebijakan harga tiket turnamen tersebut. Dalam forum World Sports Summit di Dubai pada Senin (29/12/2025), sang presiden mencoba meredam kemarahan publik dengan sebuah pembelaan yang menekankan pada keberlangsungan sepak bola global.
Badai Kritik: Lima Kali Lipat Lebih Mahal dari Qatar
Kritik paling tajam datang dari kelompok Football Supporters Europe (FSE). Mereka merilis data yang mengejutkan: harga tiket untuk edisi 2026 diprediksi akan melonjak hingga lima kali lipat dibandingkan edisi 2022 di Qatar. Kenaikan drastis ini dinilai tidak logis dan mencederai semangat inklusivitas yang selama ini didengungkan FIFA.
FSE berargumen bahwa dengan format baru yang melibatkan 48 negara, seharusnya ada ruang bagi penonton dari berbagai lapisan ekonomi. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa menonton pertandingan di stadion mungkin akan menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir kaum jetset.

Merespons tekanan tersebut, FIFA memang telah menjanjikan alokasi kecil untuk tiket kategori “terjangkau” seharga 60 dollar AS (sekitar Rp 1 juta). Namun, bagi para suporter, langkah ini dianggap hanya sebagai “pemanis” politik yang tidak menyentuh akar masalah aksesibilitas bagi jutaan penggemar kelas menengah ke bawah.
Baca Selengkapnya:
Pembelaan Infantino: Pajak demi Sepak Bola Dunia
Di hadapan para delegasi di Dubai, Infantino tidak menyangkal tingginya harga tiket, namun ia memberikan justifikasi moral di baliknya. Menurutnya, keuntungan finansial dari Piala Dunia adalah “napas” bagi keberlangsungan sepak bola di negara-negara kecil.
“Penting untuk dipahami bahwa setiap sen pendapatan dari sini akan dikembalikan ke pertandingan sepak bola di seluruh penjuru bumi,” tegas Infantino. “Tanpa FIFA, sepak bola tidak akan eksis di 150 negara. Kami adalah satu-satunya organisasi yang membiayai pengembangan bakat dan infrastruktur dari pendapatan yang kami kumpulkan setiap empat tahun sekali.”
Infantino memposisikan FIFA sebagai mesin redistribusi kekayaan. Ia berargumen bahwa harga mahal yang dibayar oleh penonton di stadion-stadion megah Amerika Utara akan membiayai lapangan bola di pelosok Afrika, sekolah sepak bola di Asia, hingga kompetisi amatir di Oseania.
“Kegilaan” Permintaan: 150 Juta Tiket dalam Dua Pekan
Meski dihujani kritik soal harga, realitas di pasar menunjukkan anomali yang luar biasa. Infantino mengungkapkan fakta mencengangkan: hanya dalam 15 hari sejak jendela aplikasi dibuka, FIFA telah menerima 150 juta permintaan tiket.
Angka ini jauh melampaui total tiket yang pernah dijual FIFA sepanjang 100 tahun sejarah Piala Dunia, yang secara akumulatif hanya mencapai 44 juta lembar. “Dalam dua minggu, permintaan yang masuk bisa mengisi kuota Piala Dunia selama 300 tahun ke depan. Ini benar-benar gila,” ujar pria asal Swiss tersebut.
Mayoritas pemesan berasal dari tuan rumah Amerika Serikat, disusul oleh penggila bola dari Jerman dan Inggris. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun harganya dianggap mencekik, daya tarik Piala Dunia tetaplah magis dan tak terbendung.
Analisis: Tantangan Logistik di Tiga Negara
Piala Dunia 2026 memang berbeda dari edisi mana pun sebelumnya. Dengan keterlibatan 48 tim, FIFA menargetkan penjualan tiket hingga 6-7 juta lembar. Namun, tantangan nyata bukan hanya soal harga tiket, melainkan biaya logistik bagi penonton.
Berbeda dengan Qatar yang memiliki wilayah geografis kecil, Piala Dunia 2026 tersebar di tiga negara raksasa. Seorang suporter mungkin harus terbang dari Vancouver ke Mexico City, lalu ke Miami untuk mengikuti tim kesayangan mereka. Kombinasi antara harga tiket yang tinggi, biaya penerbangan lintas negara, dan tarif hotel yang meroket di Amerika Utara menciptakan hambatan finansial yang sangat berat bagi suporter tradisional.
Menimbang Masa Depan Inklusivitas
Kebijakan komersial FIFA di tahun 2025 ini memicu perdebatan filosofis: Apakah Piala Dunia masih menjadi “Milik Rakyat” atau sudah bergeser menjadi produk hiburan eksklusif layaknya Super Bowl?
Para aktivis suporter menyerukan agar FIFA meninjau kembali struktur harga sebelum penjualan tahap akhir dimulai. Mereka menuntut adanya kuota yang lebih besar untuk kategori tiket murah, mengingat infrastruktur di AS dan Kanada sudah sangat mapan sehingga biaya operasional seharusnya bisa ditekan.
Namun, dengan target pendapatan komersial tertinggi dalam sejarah organisasi, tampaknya FIFA akan tetap teguh pada pendiriannya. Bagi Infantino, kesuksesan finansial tahun 2026 adalah modal politik untuk mempertahankan pengaruh FIFA di panggung dunia, meskipun itu harus dibayar dengan kekecewaan suporter yang selama ini menjadi detak jantung sepak bola itu sendiri.
