LONDON – Di bawah langit London yang dingin pada Sabtu (27/12/2025) malam WIB, Emirates Stadium menjadi saksi betapa tangguhnya karakter sebuah tim yang sedang memburu gelar juara. Arsenal, yang tengah dirundung krisis pemain di lini belakang, sukses menundukkan perlawanan sengit Brighton & Hove Albion dengan skor tipis 2-1. Kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin, melainkan pernyataan tegas bahwa The Gunners memiliki kedalaman mental yang luar biasa.
Tambahan poin penuh ini secara otomatis membawa armada Mikel Arteta kembali ke singgasana puncak klasemen Liga Inggris. Dengan koleksi poin yang solid, mereka kini unggul dua angka dari rival terdekat, Manchester City. Namun, kemenangan di pekan ke-18 ini terasa jauh lebih emosional karena diraih di tengah keterbatasan skuad yang mencapai titik nadir.

Eksperimen Paksa dan Fleksibilitas Taktis
Persiapan Arsenal terganggu bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan. Riccardo Calafiori, yang diproyeksikan tampil sejak awal, mengalami cedera misterius saat sesi pemanasan. Kondisi ini membuat Arteta harus memutar otak dengan cepat, mengingat daftar absen di lini belakang sudah begitu panjang. Jurrien Timber, Ben White, hingga Cristihian Mosquera masih mendekam di ruang perawatan.
Keputusan mengejutkan pun diambil. Arteta meminta Declan Rice, sang jenderal lini tengah, untuk mengemban tugas sebagai bek kanan dadakan. Langkah ini menunjukkan betapa kritisnya stok pemain bertahan Arsenal saat ini. Namun, alih-alih goyah, perubahan taktik ini justru memperlihatkan sisi lain dari seorang Rice yang mampu tampil disiplin meski di luar posisi alaminya.
Baca Juga:
Ironi Rp 2,7 Triliun: Ketika KPK “Kalah” di Belantara Nikel Konawe Utara
Jalannya Laga: Dominasi yang Berujung Drama
Pertandingan dimulai dengan dominasi tuan rumah. Sang kapten, Martin Odegaard, membuka keunggulan melalui tendangan melengkung khasnya yang tak mampu dijangkau kiper Brighton. Keunggulan Arsenal bertambah setelah tekanan bertubi-tubi memaksa Georginio Rutter melakukan gol bunuh diri. Skor 2-0 di babak pertama seolah menjanjikan kemenangan mudah bagi publik Emirates.
Namun, Brighton bukan tanpa perlawanan. Di babak kedua, tim tamu mulai mengeksploitasi sisi pertahanan Arsenal yang tidak ideal. Diego Gomez berhasil memperkecil ketertinggalan dan membuat menit-menit akhir pertandingan menjadi sangat menegangkan. Ketangguhan mental para pemain Arsenal diuji saat mereka harus bertahan dengan pertahanan berlapis untuk menjaga skor 2-1 hingga peluit panjang dibunyikan.
Arteta: “Masalah Membuat Kami Solid”
Ditemui usai laga, manajer Mikel Arteta tampak emosional sekaligus bangga. Ia enggan mencari kambing hitam atas kondisi medis para pemainnya. Sebaliknya, pria asal Spanyol ini memuji sinergi antara staf medis dan kemauan para pemain untuk berkorban demi tim.
“Saya tidak ingin mengeluh. Di dunia sepak bola, mengeluh hanya akan membuang energi. Yang saya lihat adalah sebuah tim yang tumbuh lebih solid di tengah kesulitan,” ujar Arteta sebagaimana dikutip dari BBC Sport.
Arteta secara khusus menyoroti sikap Declan Rice yang mau menerima peran sebagai bek kanan tanpa keraguan. “Masalah yang menimpa Richy (Calafiori) sangat aneh, terjadi di detik terakhir. Saya menatap Declan dan memintanya mengisi posisi itu. Sikapnya yang bersedia tampil sebaik mungkin untuk tim adalah alasan mengapa kami berada di posisi saat ini,” tambahnya.
Kabar baik juga datang ketika Gabriel Magalhaes secara mengejutkan masuk sebagai pengganti di menit-menit akhir. Penampilan perdana Gabriel sejak absen panjang pada November lalu menjadi suntikan moral yang sangat dibutuhkan Arsenal untuk menghadapi jadwal padat di awal tahun baru.
Analisis: Ujian Kedalaman Skuad Menuju Juara
Kemenangan ini membuktikan bahwa Arsenal versi 2025 telah berevolusi menjadi tim yang mampu “menang dengan cara kotor” saat kondisi tidak ideal. Keberanian Arteta memaksimalkan pemain yang ada, dikombinasikan dengan kembalinya pilar-pilar penting seperti Gabriel, membuat Arsenal tetap menjadi favorit utama peraih trofi.
Meski demikian, manajemen Arsenal diprediksi akan aktif di bursa transfer Januari mendatang untuk menambal lubang di lini pertahanan. Badai cedera yang beruntun adalah sinyal bahwa mengandalkan satu atau dua pemain kunci saja tidak akan cukup untuk bersaing di Liga Inggris dan kompetisi Eropa secara bersamaan.
