SEVILLE, SPANYOL – Laga lanjutan matchday kelima Liga Europa antara Real Betis dan FC Utrecht di Estadio de La Cartuja, Jumat (28/11/2025) dini hari WIB, berakhir dengan kemenangan tipis 2-1 untuk tuan rumah. Namun, sorotan utama pertandingan ini bukan hanya gol-gol indah yang tercipta, melainkan sebuah insiden kontroversial yang melibatkan bintang Real Betis, Antony, yang luput dari hukuman wasit dan VAR.

Kemenangan Real Betis diamankan berkat gol-gol dari Cucho Hernández dan Abde Ezzalzouli, sementara Utrecht hanya mampu membalas melalui gol tunggal Miguel Rodríguez. Kemenangan ini krusial, membawa pasukan Manuel Pellegrini tak terkalahkan di kompetisi Eropa musim ini dengan tiga kemenangan dan dua hasil imbang, menduduki posisi ke-5 klasemen sementara Liga Europa dengan 11 poin.

🇧🇷 Antony: Assist Brilian dan Aksi Kontroversial

Antony, winger lincah asal Brasil dan mantan penggawa Manchester United, tampil penuh selama 90 menit. Performanya di lapangan sejatinya cukup positif; ia bahkan menyumbang assist penting untuk gol pembuka Real Betis yang dicetak Cucho Hernández. Antony, yang bermain di sisi kanan, terus-menerus berduel sengit dengan bek kiri Utrecht, Souffian El Karouani.

Duel fisik yang intens antara kedua pemain ini mencapai puncaknya pada menit ke-20 dalam sebuah perebutan bola. Dalam rekaman ulang yang kini beredar luas di media sosial, Antony terlihat melakukan tindakan yang sangat tidak sportif: ia menanduk kepala El Karouani hingga pemain Utrecht tersebut tersungkur kesakitan di lapangan.

Meskipun insiden tersebut jelas terlihat, wasit utama yang memimpin pertandingan memilih untuk tidak memberikan hukuman kartu apa pun kepada Antony. Lebih mengejutkan lagi, Video Assistant Referee (VAR) juga tidak melakukan tinjauan ulang atau intervensi atas tandukan keras yang dilakukan Antony kepada El Karouani.

📱 Kemarahan Penggemar dan Kegagalan VAR

Keputusan wasit dan kebisuan VAR dalam insiden ini sontak memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar sepak bola, terutama di platform media sosial. Banyak yang menyayangkan standar pengadilan di kompetisi Eropa dan menuding adanya double standard.

“Antony memberi Souffian El Karouani tandukan keras. Wasit dan VAR tak bereaksi sama sekali,” cuit akun seorang fans di Twitter, mempertanyakan fungsi teknologi yang seharusnya menjamin keadilan di lapangan.

“Antony kehilangan kesabaran, dia menanduk El Karouani. Aksi yang seharusnya berujung kartu merah dan sanksi berat. Bagaimana bisa VAR melewatkan ini?” tulis penggemar lainnya, menyoroti pelanggaran yang dinilai jelas merupakan violent conduct.

Dalam aturan sepak bola, tindakan menanduk lawan secara langsung, terlepas dari intensitasnya, umumnya diklasifikasikan sebagai violent conduct (perilaku kasar) dan seharusnya berujung pada pengusiran pemain (red card). Kegagalan VAR untuk meninjau headbutt ini dianggap sebagai kesalahan protokol yang serius dalam pertandingan Liga Europa.

Insiden ini mengingatkan kembali pada temperamen Antony yang memang dikenal agresif di lapangan. Meskipun ia memberikan kontribusi positif dalam kemenangan Betis, aksi sporadis dan kontroversialnya berpotensi merugikan tim di masa depan, terutama jika ia tidak lolos dari hukuman Komite Disiplin UEFA yang kemungkinan akan melakukan tinjauan post-match berdasarkan laporan pertandingan atau bukti video.

🟢 Real Betis Kokoh, Fokus di Fase Gugur

Terlepas dari kontroversi yang menyelimuti kemenangan ini, Real Betis menunjukkan soliditas yang patut diacungi jempol. Kemenangan 2-1 ini membawa mereka semakin dekat untuk mengamankan tiket ke babak gugur Liga Europa. Dengan 11 poin, mereka kini hanya selangkah lagi dari fase knockout, memperlihatkan bahwa Manuel Pellegrini berhasil membangun tim yang efektif di kancah Eropa.

Kontribusi Antony, Abde Ezzalzouli, dan Cucho Hernández di lini serang membuktikan kedalaman skuad Betis. Namun, insiden tandukan tersebut kini menjadi bayangan hitam di balik hasil positif ini, dan nasib Antony terkait sanksi UEFA masih harus dinantikan. Jika Komite Disiplin mengambil tindakan retrospektif, Real Betis berisiko kehilangan salah satu pemain kunci mereka untuk pertandingan-pertandingan penting di babak gugur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *