
Briket arang dan batubara adalah dua jenis bahan bakar padat yang sering digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari rumah tangga hingga industri. Meski sama-sama berfungsi sebagai sumber energi panas, keduanya memiliki perbedaan mendasar dari segi bahan baku, dampak lingkungan, dan efisiensinya. Berikut ini adalah lima perbedaan utama antara briket arang dan batubara:
1. Asal Bahan Baku
- Briket Arang: Dibuat dari limbah biomassa seperti tempurung kelapa, serbuk gergaji, dan sekam padi yang dibakar sebagian (karbonisasi), lalu dipadatkan menjadi bentuk tertentu.
- Batubara: Merupakan hasil pembentukan alami dari tumbuhan purba yang tertimbun dan mengalami tekanan serta suhu tinggi selama jutaan tahun di dalam tanah.
🡺 Kesimpulan: Briket arang berasal dari bahan terbarukan, sedangkan batubara berasal dari sumber daya fosil yang tidak dapat diperbarui.
2. Kandungan Zat dan Emisi
- Briket Arang: Menghasilkan lebih sedikit asap dan zat berbahaya saat dibakar, terutama jika dibuat dengan benar tanpa bahan kimia tambahan.
- Batubara: Mengandung belerang, merkuri, dan logam berat lainnya yang dapat mencemari udara dan menyebabkan gangguan kesehatan.
🡺 Kesimpulan: Briket arang lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan dibandingkan batubara.
3. Nilai Kalor (Energi yang Dihasilkan)
- Briket Arang: Memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan batubara, biasanya sekitar 4.000–6.000 kkal/kg tergantung bahan bakunya.
- Batubara: Nilai kalor batubara umumnya lebih tinggi, berkisar 5.000–7.000 kkal/kg atau lebih tergantung jenisnya.
🡺 Kesimpulan: Batubara menghasilkan energi yang lebih tinggi, namun dengan risiko emisi yang lebih besar.
4. Ketersediaan dan Harga
- Briket Arang: Bisa dibuat secara lokal dengan bahan yang mudah ditemukan, bahkan dari limbah rumah tangga atau pertanian.
- Batubara: Perlu ditambang dan distribusinya memerlukan infrastruktur khusus, sehingga ketersediaannya lebih tergantung pada lokasi dan kebijakan energi nasional.
🡺 Kesimpulan: Briket arang lebih mudah diakses dan bisa menjadi solusi alternatif di daerah terpencil.
5. Dampak Terhadap Lingkungan
- Briket Arang: Produksi dan penggunaannya lebih bersih, serta mendukung pengelolaan limbah organik.
- Batubara: Penambangan batubara menyebabkan kerusakan lahan, pencemaran air, dan emisi karbon yang tinggi.
🡺 Kesimpulan: Briket arang jauh lebih berkelanjutan dan sesuai untuk energi ramah lingkungan.
Penutup
Memilih antara briket arang dan batubara tergantung pada kebutuhan dan ketersediaan. Namun, dari segi lingkungan dan keberlanjutan, briket arang menjadi pilihan yang lebih bijak, terutama dalam menghadapi isu perubahan iklim dan keterbatasan energi fosil.
